Nilai Kebermanfaatan Sebuah Ilmu

ilmu

Kemarin (30 Oktober 2013), saya menyempatkan diri membaca sebuah artikel dari sebuah blog milik rekan saya yang baik hati (yang mudah-mudahan Alloh memelihara cinta kami dalam kemuliaan Islam) terkait sebuah kisah nyata seorang pemuda salafi dan seorang ahli ilmu. Cerita tersebut sangat menarik untuk saya mengingat beberapa bulan sebelumnya, saya mengikuti sebuah kajian di Masjid Kampus UGM yang juga sangat berkaitan dengan hal yang dibahas dalam artikel tersebut yakni : Ilmu yang tidak bermanfaat.

Beberapa hari kemudian, saya lalu memutuskan untuk melakukan sebuah tindakan yang agak gila. Saya menyebutkannya demikian karena saya yakin tidak ada satupun dari rekanan saya di kampus yang cukup berani melakukan tindakan ini. Apa yang saya lakukan ? hehe. Sederhana. Saya hanya membuat status facebook tentang rangkuman kajian yang salah satunya berkaitan dengan ilmu yang tidak bermanfaat. Status tersebut kurang lebih bertuliskan begini

Ilmu itu dibagi menjadi tiga jenis, yaitu (1) Ilmu yang haram untuk dipelajari , seperti misalnya ilmu sihir, perdukunan, santet, hipnotis, sulap, dan sejenisnya (2) Ilmu yang tidak memberikan kebermanfaatan melainkan sedikit, seperti ilmu yang banyak kita dapatkan di di kampus atau bangku kuliah dan (3) Ilmu yang bermanfaat dan wajib untuk dipelajari yakni ilmu yang akan menghantarkan kita hidup berbahagia di akhirat”

Status tersebut lalu saya tag ke beberapa rekan saya di Facebook. Dan sebagian besar diantaranya adalah dosen-dosen saya di Fakultas, Jurusan dan Prodi (Program Studi-red). Tujuannya ketika itu adalah, agar bisa saling mengingatkan kepada sesama muslim (dalam hal ini tentu saja seluruh dosen yang saya tag  adalah muslim , dan kebanyakan saya kenal cukup/agak dekat).

Tanggapan akhirnya mengalir. Juga dari beberapa dosen yang kala itu saya tag. Setidaknya dari 6 dosen, 2 diantaranya memberikan tanggapan kepada saya. 1 melalui fasilitas “comment” tepat di bawah status yang saya buat. Dan 1 dosen lagi menyampaikan tanggapannya di hadapan semua rekan-rekan saya di kelas, secara langsung, hehehe.

Namun setelah berdiskusi dengan kedua dosen saya tersebut, saya berani mengambil kesimpulan yang sederhana : apa yang saya lakukan ketika itu sudah tepat, yakni saling mengingatkan dan semoga Alloh membukakan pintu hidayah dan taufiq untuk mereka.

Ilmu

Bicara tentang ilmu, tentu saja saya bukan ahlinya mengingat saya baru sebatas seorang pembelajar (meminjam kata-kata salah seorang rekan saya), bukan seorang ahli. Namun satu hal yang pasti dari ilmu dari yang saya pahami selama ini : Ilmu haruslah bermanfaat. Akan tetapi berbicara tentang kebermanfaatan, maka tentu saja maknanya masih sangat luas. Dan pun, jika kita berpikir tanpa batasan, maka semua ilmu tentunya akan memiliki nilai manfaat, terlepas dari apakah ia benar, atau salah. Karena itu, untuk memudahkan, mari kita samakan indikator kebermanfaatan suatu ilmu dengan menggunakan sebuah takaran yang pasti, yakni : bermanfaat untuk akhirat. Kenapa akhirat ? karena akhirat adalah tujuan perjalanan manusia-manusia yang masih bernyawa hari ini, kemarin, dan nanti. Sebagai sebuah perbandingan, dalam Surah Al-Hajj ayat 47 dijelaskan bahwa 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun menurut perhitungan manusia di muka bumi. Dan akhirat sifatnya kekal. Maka sudah sepantasnya kita mendahulukan kebermanfaatan untuk akhirat ketimbang kebermanfaatan untuk dunia.

Ilmu yang Haram

Ilmu yang haram dipelajari sudah sangat banyak beredar di tengah-tengah kita. Dan tentu saja dikemas dengan cara yang menarik. Hipnotis misalnya, atau sulap ? bahkan di beberapa masjid di sekitaran kampus UGM, termasuk Masjid Kampus UGM sendiri, sering sekali ditemukan poster yang berisi ajakan untuk mempelajari ilmu-ilmu seperti itu. Termasuk pula ilmu yang haram diantaranya adalah sihir, perdukunan, santet, pelet dan sejenisnya. Lalu jika kemudian ditanya, apakah bermanfaat ? Bisa jadi-bisa jadi. Bisa jadi bermanfaat walaupun sekupnya sangat kecil. Namun apakah bermanfaat untuk akhirat ? Alih-alih, ia justru bisa saja mengkekalkan kita di neraka. Sebagai catatan, mempelajari ilmu sihir dan sejenisnya adalah suatu bentuk kekufuran (sebuah dosa yang menempati urutan pertama dalam urutan dosa-dosa besar) yang tidak akan diampuni jika tidak bertaubat secara khusus. Maka tentu saja ilmu yang haram harus dihindari. Jika toh ada manfaatnya, maka keburukannya jauh lebih banyak dan sangat mengerikan.

Ilmu yang Tidak Bermanfaat Melainkan Hanya Sedikit

Termasuk diantaranya adalah ilmu-ilmu dunia yang banyak kita pelajari dewasa ini. ciri khas ilmu-ilmu yang demikian adalah akan sangat mudah membuat kita tersibukkan oleh perkara dunia dan melupakan perkara akhirat. Akibatnya hati menjadi keras. Sebagian diantara kita bisa saja berdalih : hidup di dunia kan harus 50:50. Fifty-fifty kalau bahasa kerennya. Namun apakah benar demikian ?

  • Ketika panggilan adzan berkumandang, adakah kita bersegera menyambutnya atau masih sibuk mengerjakan tugas misalnya proposal atau laporan praktikum misalnya ?
  • Berapa banyak jurnal dan buku-buku berkaitan dengan ilmu dunia itu yang telah kita baca dan berapa kali kita sudah mengkhatamkan Al-Qur’an ? atau berapa juz yang sudah kita baca hari ini ?
  • Kalau toh masih mau keukeuh mengatakan fifty-fifty, maka jika kita bekerja untuk dunia 5 jam sehari, maka kita harus bekerja untuk akhirat 5 jam sehari. Adakah kita sanggup?

Pada akhirnya, pada status saya kala itu, dosen yang sangat saya hormati karena kepandaian beliau dalam menyampaikan materi di kelas akhirnya berkata dalam komentarnya

“tidak perlulah dilakukan pendikotomian ilmu dunia dan ilmu akhirat. Pun, akhirnya ilmu yang diajarkan kepada para mahasiswa akan menjadi amal jariyah yang akan bermanfaat kelak nanti di akhirat”

Ada beberapa catatan yang saya tandai ketika itu, yakni

  •  Penggunaan kata “amal jariyah” yang digunakan oleh beliau saya tengarai maksudnya adalah “ilmu yang bermanfaat” yang merupakan salah satu dari 3 jenis pahala yang akan terus mengalir meskipun sang fulan sudah meninggal dunia (Yakni sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak-anak sholeh yang mendoakan kedua orangtuanya). Kesalahan penyebutan tersebut dalam benak saya kala itu sudah menunjukkan “kurangnya ilmu” syariat yang dipahami.
  • Membagikan ilmu yang bermanfaat, tentu saja merupakan ibadah. Akan tetapi perlu sama-sama kita ketahui bahwa syarat diterimanya ibadah setidaknya ada tiga, yakni (1) Aqidah yang benar/lurus (2) Niat yang Ikhlas karena Alloh, dan yang ke (3) adalah ber-ittiba’ (meneladani) kepada apa yang dicontohkan oleh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika tidak memenuhi salah satu saja dari ketiga syarat tersebut, maka ibadah yang kita lakukan hanya akan berakhir sia-sia. Lalu apakah kita sudah memiliki aqidah yang lurus ? sudahkah kita ikhlas dan bagaimana caranya agar ikhlas melakukan ibadah semata-mata karena Alloh ta’ala ? lalu bagaimana caranya, atau ilmunya agar kita bisa beribadah seperti apa yang Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam contohkan ? itulah yang kemudian menyebabkan kita wajib mengutamakan mempelajari jenis ilmu yang ketiga.

Ilmu yang Wajib dipelajari : Ilmu Syariat

Dalam sebuah kajian yang diadakan di Masjid Pogung Raya pada sebuah petang di hari Rabu,tiba-tiba Ustadz Afifi Abdul Waduud bertanya kepada jama’ah

“Bagaimana cara kita mengetahui derajat suatu ilmu??”

Hampir semua jamaah ikhwan petang itu terdiam. Hingga kemudian beliau menunjuk salah seorang pemuda berkacamata bingkai hitam (sungguh bukan saya, walau sama-sama berkacatama bingkai hitam) untuk menjawab pertanyaannya. Sang ikhwan berkacamata lalu menjawab

“dengan melihat objek yang dipelajari”

Ustadz Afifi lalu membenarkan jawaban laki-laki itu. Ia lalu melanjutkan dengan berkata bahwa maka dari itu tidak ada ilmu yang lebih utama daripada mempelajari Alloh. Mempelajari asma’ dan sifat Alloh. Karena sungguh tidak ada yang lebih utama, tidak ada yang lebih mulia, tidak ada yang lebih baik dan tinggi derajatnya selain Alloh tabaaroka wa ta’ala. Cara mengenal Alloh adalah sesuai dengan apa yang Alloh tunjukkan yakni dengan agama. Namun mempelajari ilmu agama tentu saja tidak bisa dilakukan begitu saja tanpa mempelajarinya seperti apa yang diajarkan oleh sang pembawa bendera risalah dari langit “Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Khalifah Utsman Bin ‘Affan selalu menangis ketika melalui perkuburan yang dengan tangisannya itu, maka basahlah jenggotnya. Ia kemudian ditanya perihal tangisannya yang kemudian ia jawab

“Ini adalah tempat yang sangat menentukan akhir dari seorang manusia. Jika ia selamat di sini (alam kubur), maka selamatlah ia di akhirat. Jika ia celaka, maka celakalah ia di akhirat”.

Dan masih ingatkah kita bahwa di alam kubur nanti kita hanya akan ditanya 3 hal ; Siapa Rabbmu ? Apa agamamu ? Siapa Nabimu ?

Dan tentu saja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bisa dilakukan dengan metode menghapal, atau latihan seperti yang biasa kita lakukan dalam menjawab soal-soal ujian ketika mencari ilmu dunia. Lalu sudah sejauh mana persiapan kita ??

Simpulan

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa kita harus meninggalkan ilmu-ilmu yang bersifat duniawi seperti misalnya ilmu-ilmu yang sedang saya dan engkau pelajari hari ini, atau yang sedang sama-sama kita tekuni hari ini. Saya hanya menekankan bahwa ilmu agama/syariat adalah ilmu yang terpenting dari segala yang terpenting. Salah seorang sahabat kami pernah berkata “apabila kamu dihadapkan pada pilihan-pilihan, maka ambillah yang akan lebih mendekatkamu kepada Alloh”. Maka utamakanlah ia, yakni Ilmu yang akan menghantarkanmu dengan damai kepada-Nya di Surga.

Dari Sahabat Mu’awiyah Bin Abi Sufyan Radiallahu ‘anhu, Rasululloh shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila Alloh menghendaki seluruh kebaikan kepada seorang hamba, maka Dia akan menjadikannya faqih (paham) akan ilmu agama” [Hadist ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim]

Semoga bermanfaat…

Ditulis ketika sedang merindukan sesuatu…

Tulisan ini saya dedikasikan spesial untuk rekan saya yang baik hati dari Fakultas Tetangga ,  Haikal Prima Fadholi. Mudah-mudahan Alloh memberikan petunjuk padamu kawan. . .

Ahmad Muhaimin Alfarisy

01 November 2013, 00:18

Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem, Catur Tunggal, Depok, Sleman

Yogyakarta

Advertisements

5 thoughts on “Nilai Kebermanfaatan Sebuah Ilmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s