Kecelakaan Pesawat Silk Air, 19 Desember 1997 ; Aku di sana

Aku benar-benar hampir melupakan peristiwa ini hingga akhirnya menemukan berita tentangnya pada April 2010 melalui internet. Kejadian yang sungguh, menghentikan detak jantung beberapa detik, menahan nafas dan hampir-hampir meruntuhkan tembok jantung. Ya, setidaknya itu yang Aku rasakan ketika itu.

Ketika itu usiaku baru mencapai 5 tahun lebih 37 hari. Suhu udara mulai turun dan matahari mulai condong ke barat, menguningkan langit senja itu. Aku tengah leyeh-leyeh di ruang keluarga di rumahku ketika itu, di sebuah desa yang jauh dari peradaban maju. Makarti Jaya. Sebuah kecamatan terpencil di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Sebuah desa yang tidak mengenal listrik kecuali ketika matahari mulai gelap. Kendaraan roda empat tidak akan engkau temui selain traktor yang dimodifikasi menjadi serupa dengan mobil, pun hanya akan terlihat pada hari 17an. Kecamatan ini sangat tertutup, namun tidak sampai terisolasi. Kota terdekat adalah Palembang, yang hanya bisa ditempuh melalui jalur sungai. Tepatnya sungai Musi. Menggunakan kendaraan air seperti perahu motor, speedboat atau yang kami biasa menyebutnya stempel, dan tongkang (perahu bermesin besar, namun berukuran lebih kecil dari perahu motor.

3731563p

Kejadian senja itu menyisakan trauma, setidaknya hingga hari ini. Namun justru aku baru benar-benar mengingatnya ketika pertama kali akan menungganginya pada bulan April 2010.

Tubuh Pesawat Silk Air Nomor penerbangan MI-185 memecahkan keheningkan kala itu dengan suaranya yang terdengar tak ladzim. Tubuhnya membumbung tidak terlalu tinggi di atas atap-atap rumah kami dan semakin merunduk. Ada yang salah ! Tidak ada landasan pacu yang bisa memuat pesawat di desa kami !

appc-silk-air-A319-1a909

Aku bahkan tak sempat menyelesaikan hembusan nafasku yang terakhir sejak suara aneh itu terdengar, teriakan puluhan hingga ratusan orang bergemuruh, menggetarkan dinding-dinding rumah kami yang hanya tersusun atas papan-papan yang usang. Mereka berlarian sambil menunjuk-nunjukkan tangannya ke atas langit !

Ada yang aneh !

Aku lalu berlarian dengan kakiku yang masih mungil, sambil menenteng kaos yang belum sempat aku pakai.

PESAWAT !!

PESAWAT !!

PESAWAT KEBAKAR !!

“DHUAM!!!!!”

Tiba-tiba suara dentuman maha dahsyat mengoyak gendang telingaku. Sebuah suara yang belum pernah aku dengar lagi bahkan hingga kini! Pikiranku berkecamuk. Detak jantungku berirama acak. Bukan karena jatuh cinta, melainkan aku tahu telah terjadi sesuatu yang sangat dahsyat jauh di delta anak sungai musi sana.

***

Aku tidak tahu apa-apa hingga petang menyelimuti langit kami yang berbintang. Tubuhku kedinginan. Ah, bukan. Tepatnya menggigil. Menggigil ketakutan. Aku tau, ada banyak mayat yang mungkin menggenang. Yang bisa saja mengalir di sungai kami. Tepat di bawah rumah-rumah kami yang tidak terlalu kokoh, memanggung di atas bibir sungai.

Ada orang yang mengatakan melihat tubuh pesawat itu terbakar hanya beberapa puluh meter di atas atap-atap rumah kami. Ada pula yang mengaku melihat api di ekor dan sayapnya. Sebagian kemudian mengaku melihat tubuh pesawat itu sempat menyenggol beberapa dahan pohon kelapa yang tinggi. Tapi bodoh, cerita yang terakhir tak mungkin benar. Jarak delta sungai hampir sekitar 5 KM, dan tak mungkin tubuh pesawat Silk Air yang malang sempat menyenggol dahan-dahan pohon kelapa yang berada di rumah-rumah kami.

Kejadiannya sangat cepat. Tak sampai beberapa detik hingga kemudian terdengar dentuman maha dahsyat yang belum pernah terdengar oleh gendang telingaku sebelumnya.

Malamnya, kami mendengar kabar dari mereka yang tinggal di delta. Sebuah pesawat bertubuh putih telah jatuh di tengah-tengah sungai Musi. Terjermbab dan jatuh dalam kegelapan air sungai musi yang keruh. Mereka bahkan berkata, meluncurnya pesawat yang menunjam tubuh sungai mengakibatkan air sungai terlontar ke udara, dengan ketinggian yang tak pernah terlihat sebelumnya. Air sungai bergejolak, seolah-olah ada peperangan dahsyat di bawah sana.

***

Malam itu terasa mencekam sekali. Membuat bulu kuduk kami merinding. Namun tak jua membuat kami menutup pintu, dan justru memperbincangkan apa yang telah terjadi. Desas-desus mulai terbang ke sana-kemari. Menembus dinding-dinding kami. Mengalahkan kabar-kabar burung sepalsu apapun. Malam itu aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Air sungai kami hari itu berwarna pelangi. Penuh minyak. Dan berbau. Aftur!

***

Pagi harinya, kabar itu mulai lebih jelas. Sebuah pesawat Silk Air Penerbangan Jakarta menuju Singapura telah jatuh tepat sungai Musi. Hanya beberapa puluh meter dari delta anak sungai musi yang menerus  ke rumah-rumah kami. Seluruh penumpang tewas termasuk awak kabin, juga pilot dan co-pilotnya.

Tubuh pesawat Silk Air kala itu ternyata hancur berkeping-keping. Sebagian diantaranya bahkan menunjam ke dasar sungai Musi yang ternyata sangat dalam. Beberapa kepingnya mengalir ke anak sungai Musi, termasuk anak sungai Musi yang mengalir ke desa kami. Salah satu serpihannya berukuran 0,5 m x 0,5 m mengalir ke sebuah jeramba dekat rumahku, yang kemudian diambil oleh salah seorang relasi kami yang ketika itu tengah tinggal di rumah ku.

Sebenarnya aku merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran serpihan tubuh pesawat Silk Air yang kemudian hadir di rumah kami. Terutama karena ia berbau aftur. Bau yang sangat tidak nyaman. Lebih-lebih jika harus mebayangkan apa yang baru saja terjadi padanya.

Tapi, serpihan itu ternyata tidak lebih mengerikan dibandingkan dengan apa yang dipungut oleh warga lain dari sungai.

Beberapa diantara mereka menemukan sepatu yang diketahui mahal, namun masih terdapat potongan kaki di dalamnya. Atau menemukan topi, yang robek. Lalu serpihan-serpihan tubuh seperti telinga, jari, dan lainnya. Beberapa yang agak beruntung menemukan perhiasan seperti kalung atau gelang. Atau mungkin cincin (yang masih menempel pada jari manis tak bertubuh) ?

Desa kami mencekam ketika malam. Namun ramai menjelang matahari menggagah di atas awan cumulus. Rumah sakit (atau mungkin puskesmas) selama seminggu tak ubahnya menjadi kamar jenazah terpanjang. Jenazah-jenazah yang tak utuh, dan tak dikenali. Hanya ada serpihan-serpihan tubuh yang tak utuh yang dibungkus dengan kantung jenazah berwarna orange, dan kuning.

Belasan helikopter terparkir di lapangan sepakbola yang berada tepat di samping Rumah Sakit.

***

Aku tidak bisa berkata banyak tentang kejadian itu. Mengerikan. Menyedihkan. Mencekam. Namun pun aku merasa beruntung, pernah mengalami peristiwa yang sangat dahsyat, yang tak semua orang mungkin akan menemuinya.

***

Serpihan pesawat Silk Air yang berada di rumahku akhirnya diberikan kepada TNI AU yang mungkin menyadari ada “sesuatu” di rumah kami melalui radar (?). Hanya 3 hari sejak kecelakaan itu terjadi.

***

Hampir sebulan, berita itu lalu mereda. Meski butuh waktu setahun untuk benar-benar menghilangkan peristiwa itu dari ingatan kami.

Ditulis ketika sedang menunggu sebuah kelas berakhir

Gedung Auditorium B lantai III,

Fakultas Geografi UGM

Kamis, 24 Oktober 2013 , 17:00

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

40 thoughts on “Kecelakaan Pesawat Silk Air, 19 Desember 1997 ; Aku di sana

  1. Apa benar pesawat tsb terbakar di udara? Saya seorang yg meneliti kejadian tsb dari berbagai sumber. Anda seorang saksi yg menyatakan terjadi kebakaran di udara pdhal yang lain tidak. Apakah pesawat terdengar menukik atau terbang datar? Pls reply. Thanks

    • terimakasih. Saya sendiri tidak melihat pesawat itu terbakar di udara. Kesaksian tentang terbakarnya pesawat tersebut di udara hanya saya dengar dari seorang anak kecil yang usainya ketika itu hanya beberapa tahun lebih tua di atas saya yang tidak bisa dipercaya. namun tetap saya tuliskan. mayoritas masyarakat tidak melihatnya terbakar. namun langsung jatuh begitu saja.
      pesawatnya menukik. tapi tidak dengan sudut deviasi yang terlalu tajam. akan tetapi cepatnya kejadian berlangsung, ketika suara pertama kali terdengar dan dentuman , cukup mengindikasikan kalau pesawat jatuh dengan posisi menukik. saya sendiri lebih percaya bahwa kejadian itu merupakan peristiwa bunuh diri pilot. bukan kecelakaan biasa.

    • Mas Suginjoe, mohon maaf. Saya mencabut pendapat saya terkait Pilot Bunuh Diri. Menurut saksi yang baru saya temui, pesawat terbakar di udara dan beberapa pecahannya jatuh di darat. Serpihan yang ada di rumah kami adalah salah satu bagian sayap. Beberapa saksi benar-benar melihat pesawat oleng, menukik tajam dan dalam keadaan terbakar. trims

  2. dari sisi pemilihan diksi, bagus..
    ehm,, udah lama saya mencari referensi soal kecelakaan pesawat ini,, apalagi ni ditulis langsung lewat perspektif narasumber nya ,, keren dah..

    • terimakasih mas Affan 🙂
      Tapi dulu saya masih anak-anak sekali. sehingga di tulisan ini saya masih mencampurkan kisah nyata yang benar-benar saya lihat, dan desas-desus yang beredar ketika itu yang saya percayai kebenarannya dalam kapasitas seorang anak-anak

  3. dulu sewaktu SD saya pernah di ceritain temen, kebetulan dia orang sungsang daerah yg juga dekat dengan lokasi jatuh nya pesawat. yang saya pikir dr kecil sampai sekarang pesawat nya jatuh di daerah sungsang, ternyata makarti jaya.baru tau saya 😀
    salam kenal, saya vitri org mariana. cerita nya bagus 🙂

    • terimakasih Mbak ^_^
      Makarti Jaya sama Sungsang deketan kok Mbak. cuma pesawatnya jatuh lebih deket ke Makarti Jaya. . kira2 begitu

  4. Owh ternyata pesawat nya jatuh dkat makarti jaya saya juga sering dngar cerita dari orang2 kalau ada pesawat jatuh di sungai sungsang.
    dan kejadian itu juga bertepatan dngan kecelakaan perahu motor dari desa saya tirtaharja, muara sugihan tapi pas kejadian itu saya belum tau apa2 saya masih umur satu tahun lebih tapi saya tetap penasaran dngan cerita orang sekitar saya.
    makasih atas infonya.

  5. Wah ternyata kita seumuran Bung. Rumahku berada di ujung utara delta upang (Pendowo harjo). Yang paling ku ingat kala itu, kebun pisang di belakang rumah kami porak poranda terkena angin dari kipas hellikopter yang kemungkinan sedang mencari serpihan dari pesawat tersebut. Kini aku teringat kembali dengan peristiwa itu setelah ada kejadian pesawat air asia yang dikabarkan hilang kontak di perairan bangka belitung, dimana pada saat ini saya berdomisili di Pangkalpinang – Bangka.

    • wah UPAAAAANG
      Kemplangnya enaaaak -_- . Saya kangen makan kemplang upang yang gede gede itu abang

      Salam kenal abang

      • Saya bukan di upang tapi di pendowo harjo, desa paling utara yang terdapat di delta upang. Saya juga kangen tuh sama kemplang yang kamu omongin. Hahaha…. salam kenal juga, siapa tau saja mudik dengan waktu yg bersamaan dan bisa bertemu di tanah masa kecil itu.

      • Jadi sudah menetap dan betah di jogja? Hampir setiap setahun sekali saya juga pulang ke jogja, masih ada nenek saya dan kerabat lainnya di jogja soalnya. Bapak dan Ibu saya asli orang jogja, jadi keluarga besar semua di jogja.

      • Hehe belum sekarang, mudah2an sekitaran juli – agustus. Sekalian menikmati momen berkumpul dengan keluarga besar. Pengennya setiap kangen jogja, bisa pulang setiap saat, tapi saya punya jadwal dan tanggung jawab juga disini.

  6. Kecelakaan Air Asia yang membuat saya menelusuri sejarah kecelakaan pesawat di Indonesia. Terlebih mendengar jatuhnya di Sungai Musi, sudah barang tentu mengusik keingintahuan saya yang tinggal di Palembang sejak kecil. Cerita yang bagus mas, sukses untuk kuliahnya di UGM.

  7. assalamualaikum. . . lrn kecelakaan airasia sy liat brt ttg silk air ini.. tertarik dg kata sungsangnya.. ternyata author nya org makarti ya.. sy dl (2012) pernah main ke makarti.. pny tmn kuliah yg tingal d sana.. sy sih di bekasi. mungkin kamu knl.. klo kmu dl SMA d sn mungkin knl sm tmn sy. d sna msh bnyk yg ternak wallet kah?

    • ‘alaykumussalam warohmatulloh
      wah. hehe
      saya setelah peristiwa ini, saya hanya tinggal di Makarti sampai 3 tahun. selepasnya saya pindah ke kota Palembang,
      tidak tau apakah di sana masih ternak walet atau tidak hehe

      sejak itu saya belum pernah lagi ke makarti

  8. kejadian silk air tidak akan terlupakan bagi warga sumsel .saya sendiri sebagai wong kito dk pacak lupo. apalg ada salah 1 rekan bisnis sy yg ternyata ibunya salah satu korban yg tidak bs dikenali/diketemukan lg jenazahnya.dia bercerita bahwa tiap kl teringat/menceritakan kejadian naas tsb smp skrg msh sedih&merinding. semoga kejadian air asia yg baru trjd ini menjadi yg trakhir di dunia penerbangan kt.aminnn

  9. saat itu sy kls 2sd, sy ingat betul sesaat sebelum jatuh pesawat itu melintasi atap2 rumah diatas desa kami. serpihan2 ny pun banyak ditemukan di area persawahan desa kami yg jarak nya beberapa km dr lokasi kejadian.. jadi kalau menurut pandangan awam kami, terjadi kecelakaan diudara sesaat sebelum pesawat itu terjun diatas sungai musi.

  10. saat itu sy kls 2sd, sy ingat betul sesaat
    sebelum jatuh pesawat itu melintasi atap2
    rumah diatas desa kami. serpihan2 ny pun
    banyak ditemukan di area persawahan desa
    kami yg jarak nya beberapa km dr lokasi
    kejadian.. jadi kalau menurut pandangan awam
    kami, terjadi kecelakaan diudara sesaat
    sebelum pesawat itu terjun diatas sungai
    musi.

  11. Ceritanya bagus bang..Aku orang makarti tepatnya Desa Purwodadi/Pangestu.Meskipun waktu kejadian umurku baru 7 bulan,Aku juga ikut ngeri waktu denger cerita kecelakaan pesawat ini,,aku denger cerita dari orang tua,memang katanya dulu ada nelayan yang nyari ikan yang ternyata ketika salah satu ikan di siangi,nelayan nemuin potongan jari korban..Entah nelayan mana juga kurang tau…
    Kalo boleh tau,abang dulu tinggal di Makarti di desa mana bang?

    Replay

    • wah desa mana ya. pokoknya saya di Kecamatan Makarti Jaya, hehe. Deket pasar deh. kalau dari pasar Makarti Jaya, ke arah Barat. Saya tinggal dekat sungai. Ohya, punya foto2 terbaru makarti jaya ga dek ?

      • Owhh..abang dulu pasti tinggalnya di desa Tanjung baru..untuk foto2 alhamdulillah ada tapi baru sedikit bang,..nanti kalo ada saya kabarin deh bang,,kalo di tanya kabar kecamatan makarti bang,,alhamdulillah semua sudah hampir modern bang,dari segi pertanian,perkebunan,peternakan,bahkan yang ternak walet masih eksis aja nihh..bahkan semakin berkembang…sekolah2 udah banyak…tapi belum lama ini makarti kena musibah lagi bang…pasar kembali terbakar tapi gak sampe ludes semua,hanya sebagian

      • oh gitu ? wah alhamdulillah hehe. saya dulu sekolah di MI Miftahul Ulum, dekat Masjid Agung. Itu desa Tanjung Baru kah ? iya video kebakarnnya saya lihat di youtubr

  12. Keren betul ceritany..
    Aku teringat masih nangis waktu kejadian itu.. Sepontan langsung terdiam setelah terdenar suara gemuru tsb.. hahaha..
    Dan TNI nya juga sering dada saat di helicopter

  13. Punya mobil disini juga jarang di pake pasti..disini dikelilingi sungai mas…nggak ada jalan tembus ke pusat kota….kecuali kalo mobil itu mau di sebrangin pake perahu ketek….:)

  14. orang tua saya dulu tinggalnya di desa pandowo harjo juga… tapi saat saya kelas 3 SD pindah :D…. saya dulu sempat pernah liat kelokasi jatuhnya pesawat, rame” sama orang desa pendowo… yang saya ingat cuma patahan-patahan badan korban kecelakaan saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s