Antara Mars dan Venus

VENUS

mars-venus-bulan2

Beberapa cerita mengisahkan bahwa Ia tidak berasal dari sini. Bahkan ia adalah penduduk asing yang kemudian menetap di bumi. Beberapa mengisahkan ia dilahirkan di sebuah bintang yang paling terang di atas langit yang tak terjangkau oleh awan. Venus. Beberapa lagi mengisahkan bahwa ia penduduk surga ‘adn, yang diciptakan dari selembut-lembutnya iga, dari tulang rusuk sesosok makhluk lain. Hingga kemudian sebuah syair nan lembut mampu menyiratkan siapa ia…

…Perempuan, diciptakan dari tulang rusuk Adam…

…bukan dari kakinya untuk menjadi bawahannya…

…bukan dari kepalanya untuk menjadi tuannya…

…tapi dari iga-nya, untuk menjadi penjaga hatinya…

…dekat di dadanya, agar ia dilindunginya…

Ada banyak kisah yang menceritakan asal usul keberadaannya. Namun semua berakhir pada sebuah kesimpulan yang pasti. Ia adalah makhluk terindah yang teramat sangat lembut. Seindah-indah ciptaan Tuhan, dan sebaik-baik perhiasan dunia.

Beberapa cerita mengisahkan ia seperti air. Lembut, dan melihatnya akan membuat hatimu damai. Beberapa lagi mengisahkan ia seperti piala-piala kaca. Ia memikat, namun regas, mudah hancur berantakan. Beberapa pula mengisahkan betapa ia seperti angin dari arah kutub, mampu mendinginkan hati yang meletup-letup, yang hampir saja meluapkan lava pijar. Atau menjadi pohon yang teramat rimbun, tempat bernaung jiwa-jiwa yang kelelahan atas sebuah perjalanan pencarian makna hidup.

Sejarah terkadang menuliskan ia sebagai bunga-bunga mawar yang indah. Namun tak jarang pula yang mengisahkah nasibnya yang tertindas. Yang tak ubahnya seperti paku-paku kecil yang hanya ditancapkan pada barisan kayu yang kokoh, membangun peradaban. Tidak ! Ia lebih mulia dari itu.

Cinta, keindahan, kepedulian, adalah watak yang seolah menjadi sebuah benih yang tumbuh dengan sendirinya di lubuk hatinya. Maka tentu saja ia akan terlihat demikian. Penuh cinta, penuh keindahan, dan rasa peduli yang tinggi. Bahkan lebih dari itu, ia juga memiliki rasa empati yang besar. Menyempurnakan keindahan fisik dan hatinya.

Namun hidup penuh cinta dan keindahan tak pernah membuatnya puas. Ada sesuatu yang belum ia miliki dan entah kenapa selalu ia rindukan. Ia terkadang butuh punggung yang kokoh untuk ia rengkuh ketika keringkihan yang seringkali datang tiba-tiba, menyergap kesendiriannya. Terkadang pula ia merindukan mata yang teduh, yang akan berempati padanya sehingga ia bebas berkeluh kesah apa saja. Bukan untuk menjadi pelampiasan hatinya yang terkadang mengeruh, namun hanya sekedar teman bicara. Ia hanya butuh empati. Butuh didengarkan. Dan berteduh.

Perjalananannya benar-benar melelahkan. Cinta, keindahan, dan kepedulian yang ia ekspresikan kepada sesamanya tak mampu melepaskan dahaga yang kini benar-benar menggeragasi kerongkongannya, mengeringkan hatinya. Ia merindukan sosok lain. Entahlah, ia juga tidak tahu pasti siapa.

Inspired from Men are from Mars Women are from Venus by John Gray, Ph.D

Pojok Perpustakaan Pusat UGM Lantai I

Kamis, 24 Oktober 2013 ; 11:12

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s