Nduk, Hijabmu Sungguh Cantik. Tapi….

Alhamdulillah, atas izin Allohlah, akhirnya agama Islam perlahan-lahan menjadi sesuatu yang, saya lebih suka dalam hal ini menyebutnya “identitas” yang kini tak lagi tertindas. Setidaknya di negeri ini. Masyarakat kini tak lagi malu-malu menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim. Maka tidak akan sulit bagi anda untuk menemukan wanita-wanita berhijab, laki-laki yang memanjangkan jenggotnya dan memotong celananya hingga di atas mata kaki, serta tidak sulit pula untuk menemukan kajian-kajian ahlusunnah di masjid-masjid, atau di kampus dan sekolah. Namun pada kesempatan kali ini, saya hanya akan fokus membahas identitas fisik seorang muslim. Ah, tepatnya muslimah. Yakni Hijab.

10592966_850907761601105_844496661302914034_n

Di kampus-kampus ternama seperti UGM, UI, ITB, UNDIP, UNAIR, UNY, dan lainnya, bukanlah hal yang terlalu sulit untuk menemukan muslimah yang berhijab lebar yang masih menampakkan wajah, yang kata sebagian di antara mereka adalah hijab syar’i. Memperolehnya pun tidak sesulit dulu, dan menggunakannya juga tidak seberbeda dulu (karena dulu masih sangat jarang dan terkesan asing). Namun satu yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah hijab yang demikian sudah benar-benar mampu menghindarkan diri dari fitnah??

Fungsi utama dari hijab sebenarnya adalah menjaga kehormatan wanita yang memakainya. Alloh teramat sangat baik dengan mensyariatkan hijab bagi hamba-Nya dari golongan wanita agar mereka terhindar dari fitnah (bencana/gangguan/godaan). Hal ini tidak lain adalah karena betapa mulianya kedudukan seorang wanita di dalam Islam. Perintah menggunakan hijab sendiri (yakni Surah An-Nur ayat 31) baru turun setelah hijrahnya Nabi Shalallallahu ‘alaihi wa sallam ke kota Madinaturrosul yang kemudian lebih populer dengan sebutan “Madinah” saja. Ketika itu, dikisahkan bahwa pada saat firman Alloh telah disampaikan terkait wajibnya menggunakan hijab bagi kaum wanita pada petang harinya, pada waktu subuh seluruh wanita di kalangan Muhajirin dan Anshor sudah menggunakan hijab. Diceritakan bahkan saking kokohnya keimanan mereka, sebagian muslimah yang tidak memiliki kain lebih, menggunakan selimut yang dipotong untuk digunakan sebagai hijabnya.

Lalu pertanyaannya adalah, hijab seperti apakah yang disyariatkan dalam agama ini ?

Mari kita kembali pada pertanyaan yang belum terjawab pada paragraf ke dua. Hijab-hijab yang banyak beredar dan dipakai oleh kalangan muslimah saat ini sudah cukup baik. Akan tetapi benarkah sudah sesuai dengan syariat dan benarkah hijab yang demikian itu sudah mampu menghindarkan mereka dari fitnah ?

Akh, ternyata TIDAK ! atau tepatnya BELUM !

Mayoritas kalangan ikhwan justru sangat mudah tergoda kepada muslimah yang berhijab. Apalagi kemudian hijabnya adalah hijab cantik (yang meskipun lebar) namun berwarna-warni cantik dan menggoda mata untuk melihat. Apalagi kemudian jika sang ikhwan tidak bersih hatinya. Mereka (the Ikhwaners) mengistilahkannya dengan “calon-calon pendamping masa depan”. Gejala ini hampir merata di seluruh kalangan ikhwan baik yang ngaji ataupun yang tidak. Bedanya, ikhwan ngaji punya harapan dan peluang yang besar di hati mereka (sendiri) untuk menikah dengan wanita semacam ini. Sedangkan ikhwan yang tidak ngaji, umunya sudah putus asa sebelum berperang. Ya setidaknya kurang lebih begitu. Bisa dibayangkan apa yang terjadi sekiranya sang muslimahpun tidak memiliki pohon keimanan yang kokoh. Dirayu sedikit, pohon keimanannya bisa ambruk, roboh, dan ya bisa jadi bertekuk lutut sekiranya Alloh tidak menyelamatkan hati-hati mereka.

Pakai Cadar aja, pripun nduk ?

Sebuah survei kecil-kecilan yang saya lakukan menghantarkan saya pada kesimpulan bahwa, para ikhwah akan lebih tunduk hati (dan mata) nya jika muslimah-muslimah itu tidak hanya menutupi auratnya dengan hijab yang lebar, tapi juga menggunakan cadar. Terhadap mereka yang bercadar, para ikhwah umumnya akan sangat malu dan tunduk hatinya sehingga bahkan tidak berani (atau tidak terlalu berani) untuk melihat muslimah yang menggunakan hijab dengan sempurna. Jika kemudian melihat saja tidak, lalu bagaimana mungkin fitnah yang lebih besar akan muncul ? akan tetapi yang berhijab biasa, memang akan terhindarkan dari penglihatan-penglihatan yang zalim (yakni pada bagian aurat tertentu), akan tetapi bisa menumbuhkan tunas fitnah di hati para ikhwah yang mungkin hatinya tidak bersih, misalnya karena mungkin kecantikan paras dari wanita tersebut.

Dalam hal ini, bisa saja tumbuh perasaan yang belum saatnya. Jika sudah begini, apakah hijab tersebut benar-benar bisa dikatakan sebagai benteng yang mampu menyelamatkan diri dari fitnah ? Oh, rupa-rupanya tidak. Toh jika kemudian sang muslimah kokoh keimanannya dan tak tergoda oleh rayuan di luar sana, maka ada berapa laki-laki (sholeh) lain yang nasibnya menggenaskan karena sudah terlanjur tumbuh fitnah cinta di hatinya sementara kondisi belum memungkinkan untuk mencari jalan yang halal.

Kaidah seorang muslim yang baik adalah, menghindarkan diri dari fitnah jauh lebih utama ketimbang menantangnya. Sehingga dalam hal ini, menghindari segala faktor yang mampu menimbulkan fitnah itu harus dihindari sejauh-jauhnya. Atau dengan kata lain, semaksimal yang kita mampui.

Pendapat 4 Madzhab terhadap aurat wanita.

Dari 4 Madzhab yang dikenal yakni Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i, dan Madzhab Hanbali berbeda-beda dalam menyikapi yang mana saja yang merupakan batasan aurat wanita. Madzhab Hanafi dan Maliki sepakat bahwa telapak tangan dan wajah bukanlah aurat wanita sehingga boleh ditampakkan bahkan kepada laki-laki ajnabi (laki-laki yang bukan siapa-siapa). Namun dua madzhab terakhir menyatakan semua bagian tubuh wanita adalah aurat yang tidak boleh tampak. Bahkan termasuk kuku. Namun terlepas dari itu semua, mayoritas para ulama bersepakat bahwa sebaik-baik wanita dalam agama ini, yakni para istri Nabi, mereka semua menggunakan cadar.

Saya sendiri secara pribadi lebih sepakat pada pendapat dua Madzhab yang terakhir sehingga saya sangat mengidamkan (dan mengimpikan) akan lebih banyak lagi wanita-wanita muslimah yang sadar untuk menggunakan cadar (yang meyoritas ulama pendahulu menghukuminya dengan “Wajib”)  dengan beberapa pertimbangan.

  1. Syariat ini (Islam) turun kepada Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan diterapkan pertama kali oleh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahlul bait, para sahabat dan shahabiyyah, dan orang-orang yang hidup di zaman itu. Maka tentu saja dalam beragama, mereka adalah orang-orang yang paling baik dan benar pemahamannya. Kenapa ? karena pelaksanaan syariat di masa mereka langsung dikontrol oleh Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan seperti yang saya jelaskan di atas, semua istri nabi menurut pendapat jumhur ulama, menggunakan cadar. Sehingga tentu saja kuat adanya pendapat para ulama jika maksud dari tafsir Surat An-Nur ayat 31 di atas adalah berhijab seperti apa yang dicontohkan oleh para Istri rasulullloh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni hijab wanita yang sesuai syaar’i adalah tidak hanya menutup seluruh tubuh, namun juga wajah.
  2. Logika sederhana. Jika istri-istri Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam saja yang dikenal sebagai wanita-wanita yang paling tinggi keimanannya dan paling suci dari dosa meski tidak maksum tentuny, mereka menggunakan cadar. Maka tentu saja wanita-wanita di zaman ini yang keimanannya jauh di bawah para istri Rasul LEBIH BERHAK dan LEBIH WAJIB menggunakan cadar dibanding mereka.
  3. Wanita-wanita muslimah di zaman ini lebih suka dan lebih memilih untuk menutupi kaki-kakinya dengan kaos kaki daripada menutupi wajahnya dengan cadar. Padahal jika dilihat pada realita yang terjadi, fitnah lebih mudah jatuh karena wajah/paras wanita daripada kakinya. Maka sekiranya kaki telah ditutupi, tentu saja wajah wanita yang mudah sekali menyebabkan fitnah lebih pantas untuk dilindungi dari mata-mata zalim di luar sana.

Dengan menjaga indahnya wajahmu dari mata-mata zalim di luar sana karena Alloh, demi Alloh, sungguh Alloh akan memberikan penjagaan dan kemuliaan yang lebih utama padamu.

Dan untuk para lelaki, yuk mari kita belajar untuk lebih mampu menahan pandangan terhadap lawan jenis. Karena menahan pandangan bukanlah perkara wanita itu cantik atau tidak cantik. Melainkan apakah ia wanita ataukan bukan. Dan melainkan apakah ia halal, atau tidak halal.

Saya juga masih belajar : ) . Dan demi Alloh, Rabb yang Jiwaku ada dalam genggam-Nya, hati ini lebih damai, dan lebih menentramkan jika kita sudah mampu menahan pandangan.

#dan bersegeralah menikah he he he

 

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Pojok Kamar Bercat Biru

Karang Asem, Sleman, Yogyakarta

Sabtu, 19 Oktober 2013, 11:08

Advertisements

15 thoughts on “Nduk, Hijabmu Sungguh Cantik. Tapi….

  1. Mengapa cadar tidak dikenakan saat sholat? mengapa saat berhaji tidak menggunakan cadar? Jika memang cadar ini lebih baik, mengapa saat sholat tidak sekalian menggunakan cadar?

    • fungsi utama cadar adalah agar tidak mudah menimbulkan fitnah. ketika dalam sholat, jelas bahwa laki-laki dan perempuan terpisah sehingga laki-laki hanya melihat yang laki-laki dan perempuan hanya melihat yang perempuan.
      aurat perempuan terhadap perempuan lainnya sepengetahuan saya hingga hari ini adalah dari pusar, hingga lutut. sehingga tidak masalah jika wajahnya terlihat. namun jika mbak melihat lebih luas, sepengetahuan saya, akhwat-akhwat yang bercadar itu sebagian tetap masih menggunakan cadarnya ketika sholat

      terkait haji. sebagian yang tidak menggunakan cadar mungkin menganggapnya atau berpedoman pada pendapat yang menagatakannya sebatas sunnah seperti yang saya jelaskan di atas. wallohu a’lam

  2. “Wanita-wanita muslimah di zaman ini lebih suka dan lebih memilih untuk menutupi kaki-kakinya dengan kaos kaki daripada menutupi wajahnya dengan cadar.”

    – kenapa pakai kaos kaki? Ya krn Menurut jumhur ulama aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sehingga kaki termasuk aurat yg hrs ditutup.

    “Padahal jika dilihat pada realita yang terjadi, fitnah lebih mudah jatuh karena wajah/paras wanita daripada kakinya.”

    – Lah kalau begitu mah salahin ikhwannya dong krn dia ga menjalankan perintah Allaah utk menundukkan pandangan. Klo dia menundukkan pandangan pasti klo pertama kali liat akhwat yg pertama diliat adalah kakinya. Itulah knp kaki termasuk aurat yg hrs ditutupi. Beda cerita klo ikhwannya ga taat sama perintah menundukkan pandangan, ketika bertemu akhwat pasti matanya langsung natap ke wajah akhwat. Jgn dikit2 memojokkan akhwat dong, akhwat udh menjalankan perintah menutup aurat yg ada di Al Ahzab 59 dan An Nuur 31. Tinggal ikhwannya udh taat blm sama perintah di An nuur 30?? Klo akhwat udh pake jilbab lebar, msh terjadi fitnah dikarenakan wajah akhwat berarti ikhwannya yg kudu introspeksi!!!

    2.

  3. pemakaian cadar bersumber dari wanita-wanita arab… sebenarnya mereka menggunkannya bukan karena budaya-nya tapi karena dari sisi lingkungannya ,,, seperti yang kita ketahui kalau daerah arab dominan padang pasir, jadi kalau keluar rumah mereka menggunakan untuk melindungi saluran pernapasan mereka.

    • silahkan baca fatwa tentang penggunaan cadar mbak. di sana dalilnya jelas. kalau susah carinya, di komentar sebelumnya sudah saya kasih linknya . ‘afwan.

      pada tulisan saya menggunakan pendekatan logika karena untuk mengimbangi orang2 yang suka berkomentar dengan mengandalkan logika. maka saya sertakan dalil ,

      karena ketika pendekatan logika saya lakukan, mereka akan kembali berkata : agama kan pakai dalil, bukan akal. maka saya sertakan dalilnya.

    • para ulama sepakat, seperti yang saya jelaskan di atas bahwa cadar hukum minimalnya adalah sunnah, dan sebagian mengatakan hukumnya wajib.
      namun jika melihat besarnya mudhorot yang timbul tentu saja wajah lebih pantas untuk ditutup meski hukumnya dalam fiqih adalah sunnah. karena kaidah seorang muslim yang baik adalah ia akan berusaha untuk menghindari fitnah sejauh-jauhnya. sementara fitnah lebih mudah jatuh karena keelokan wajah ketimbang keelokan kaki.
      dalam link yang saya tunjukkan di atas, di bawah komen mbak yang atas, bisa mbak temukan dalil wajibnya.

      • Kalau begitu, misal kita mengambil pendapat ulama yg mengatakan hukum cadar adlh sunnah, berarti cadar tdk lebih utama dibanding dgn menutup kaki (menutup kaki lebih utama).. Jikapun bersandar pd pendapat ulama yg mengatakan cadar wajib, maka posisi cadar adlh sejajar dgn memakai penutup kaki..

        Jk anda mengatakan fitnah
        lebih mudah jatuh karena keelokan wajah ketimbang
        keelokan kaki,berarti itu dikarenakan laki2 tdk menundukkan pandangan sperti komen sy sblmnya. Jk saja laki2 taat pd perintah gadhul bashar, bkn tdk mgkn fitnah lebih mudah jatuh pd keelokan kaki ketimbang keelokan wajah. Bukankah imam syafi’i rahimahullaah pernah terfitnah oleh seorang wanita krn tdk sengaja melihat betis wanita yg tersingkap hingga sebagian hafalannya hilang diakibatkan peristiwa tsb??

        Sampai saat ini, sy mengambil hukum cadar adlh sunnah. Maka sy sangat tdk sependapat dgn poin 3 pada artikel yg anda tulis, yg mengatakan wanita LEBIH SUKA menutup kakinya ketimbang menutup wajahnya. Krn menutup kaki bkn pilihan melainkan KEWAJIBAN, sedang menutup wajah adlh SUNNAH. Sehingga kaki adlh bagian yg HARUS ditutup, suka ataupun tdk suka.

        Lalu bgmna pendapat anda ttg wanita yg menutup wajahnya , tp tdk menutup kakinya?
        Sy sangat menyayangkan bhw dlm faktanya ada wanita2 yg menutup wajahnya tetapi tdk menutup kakinya. Mgkn mrk berpendapat sama sperti anda, bhwa fitnah lebih lebih mudah jatuh dikarenakan terbukanya wajah dibanding kaki. Sehingga bermudah2an dlm membuka kaki. Padahal, Barangsiapa disibukkan dgn ibadah wajib sehingga tidak sempat mengerjakan ibadah sunnah maka dia termaafkan. Barangsiapa disibukkan dgn ibadah sunnah sampai dia melalaikan ibadah wajib maka ia adalah orang yang tertipu. (Fathul Bari: 11/442)

        Allaahul muwafiq.

      • mohon maaf sekiranya tulisan saya membuat sebagian pihak kurang setuju atau bahkan marah. silahkan jika mbak bertahan dg pendapat sunnahnya bercadar. ini bukan hal yang layak untuk saya kaji sebagaimana ilmu saya yang masih rendah, bahkan ini sudah dibahas bertahun-tahun yang lalu. ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, yang pada akhirnya menghasilkan dua pendapat. artinya ada khilaf dalam hal ini.
        silahkan pilih. sementara saya cenderung pada pendapat yang mengatakan wajib. sebagian yang lain cenderung pada pendapat yang sunnah.

        PS : betis dan kaki adalah dua hal yang berbeda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s