Agar Mereka Mencintai Al-Qur’an

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengikuti sebuah kegiatan yang diadakan oleh salah satu institusi yang ada di Kampus. Dalam kegiatan tersebut, saya sebenarnya bukanlah bagian dari peserta, ataupun panitia. Saya hanyalah sebagian di antara partisipan yang berkeinginan agar acara tersebut berjalan lancar.

cinta

Sasaran kegiatan tersebut adalah mahasiswa baru 2013, atau yang di kampus ini lebih populer dengan sebutan GAMADA atau Gadjah Mada Muda entah siapa yang mempopulerkannya, namun istilah itu sudah cukup populer sejak tahun 2012.

Tidak acara, tidak pula tentang GAMADA yang akan saya bahas kali ini, melainkan sesuatu yang sempat terjadi selama berlangsungnya acara.

Secara umum, pelaksanaan acara berlangsung lancar, dan saya tidak pula terlalu terbebani dengan kegiatan tersebut yang sebenarnya berpanitia sedikit. Keadaan ini membuat saya masih sempat beristirahat sambil biasanya mengutak-atik ponsel atau yang lainnya. namun di kesempatan itu, mata dan hati saya lebih tertarik untuk menjumput sebuah mushaf berwarna merah muda yang tergeletak bebas di atas meja.

Photo-0049

Warnanya cerah dan tentu saja menggelitik jemari saya untuk menyentuhnya. Ohya, sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa saya punya hobi memperhatikan mushaf milik orang lain untuk menganalisis beberapa hal, seperti misalnya interaksi seseorang tersebut dengan Al-Qur’an, bacaan terakhir yang sedang dia baca, bagian yang sedang dihafalkan, dan beberapa hal lainnya. Meskipun hingga saat ini saya tidak begitu mengerti manfaatnya.

Ada sebuah hal yang menarik ketika mushaf itu pertama kali saya buka. Yakni sebuah tulisan pada halaman belakang Mushaf Al-Qur’an yang menjelaskan kapan Mushaf Al-Qur’an yang berbau harum itu pertama kali beralih tangan menjadi milik seseorang yang kini berada di tengah-tengah kami. Tulisan itu kurang lebih seperti ini

Photo-0047

01 Oktober 2006

“Akhirnya, saya bisa membeli Qur’an ini dengan uang THR. Semoga ini bisa bermanfaat untuk saya dan orang lain. Amieen. . . . . . . .

Lalu tepat di bawahnya ada beberapa tandatangan yang seolah menjadi bukti bahwa mushaf tersebut miliknya.

Saya tersenyum. Agak lama

Setidaknya ada satu hal yang menarik yang terlintas di benak saya kala itu. Mushaf itu lebih dahulu bertuan dari milik saya. Mushaf bersampul cokelat milik saya sendiri bertanggal 12 November 2009. Hadiah ulangtahun (ketika itu masih suka merayakan ultah) dari salah seorang wanita yang paling saya cintai, Ummu Maryam, Kakak perempuan saya. Sedangkan mushaf yang ketika itu ada di genggaman tangan saya bahkan 3 tahun 1 bulan lebih tua dari mushaf yang saya miliki. Namun, ia masih berbau harum dan nampak lebih terawat meskipun kemudian saya menemukan beberapa bekas lem perekat.

Seketika itu juga saya menjadi terinspirasi oleh sebuah hal yang mungkin suatu hari nanti akan sangat bermanfaat untuk saya, juga untuk anda, yakni taktik bagaimana cara agar anak, putra putri kita mencintai Al-Qur’an.

  • Pertama, tentu saja kita terlebih dahulu harus mengenalkan Alloh kepada mereka. Salah satu tanda jatuh cinta adalah, kita suka mendengar perkataan orang yang kita cintai. Maka dari itu, jika seseorang mencintai Alloh dan benar dengan kecintaannya, maka ia akan sangat suka mendengarkan Al-Qur’an (Ibnul Qayyim AlJauziyyah). Memperkenalkan Alloh kepada Putra-Putri kita adalah langkah pertama yang dapat kita tempuh untuk membuatnya mencintai Al-Quran. Dengan membuatnya mencintai Alloh, maka dengan sendirinya akan muncul dorongan untuk mengetahui kata-kata dankalimat-kalimat dari Zat yang dicintainya.
  • Setelah ia mengenal Alloh, maka perkenalkan mereka dengan Al-Qur’an. Misalnya dengan memperdengarkan Al-Qur’an dengan murottal-murottal pilihan, perlihatkan wujud Al-Qur’an (Mushaf), dan pelan-pelan ajarkan ia membacanya. Rangkai cara memperkenalkan Al-Qur’an dengan cara yang menyenangkan seperti memulaikan dengan memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah dan mewarnai huruf-huruf hijaiyah yang dibuat berukuran besar.
  • Susun jam belajar mereka dengan lebih mengedepankan dan mengutamakan mempelajari Al-Qur’an, terutama di awal-awal mereka sudah berakal, dan bisa berbicara. Dan yang lebih penting adalah tanamkan dalam-dalam di hati mereka bahwa Al-Qur’an adalah hal yang paling pertama harus mereka kuasai sebelum mempelajari ilmu lainnya.
  • Ketika mereka sudah mampu membaca Al-Qur’an, jangan berikan mereka Mushaf, namun pinjamkanlah mereka. Namun tekankan bahwa Al-Qur’an adalah sangat penting untuk dimiliki. Dengan cara ini, mereka akan mengerti bahwa mereka harus segera memiliki Al-Qur’an dan dengan segera mereka akan berusaha untuk memilikinya.
  • Di sisi lain, didik mereka pentingnya menabung dan menyisihkan uang, sembari terus menekankan pentingnya memiliki Al-Qur’an.
  • Dengan sendirinya di benak mereka akan tumbuh kepentingan untuk membeli mushaf Al-Qur’an. Jika rencana ini dijaga dan diterapkan dengan baik, maka mereka akan berinisiatif menyisihkan uang untuk membeli mushaf untuk diri mereka sendiri.

Hal yang menjadi nilai esensial dari trik di atas sebenarnya adalah agar seorang anak memiliki usaha dan upaya yang besar hanya demi agar memiliki sebuah Mushaf Al-Qur’an. Dengan jumlah uang yang terbatas, dari hasil tabungan yang dikumpulkan hari demi hari, atau misalnya dari THR untuk anak-anak yang jumlahnya tidak seberapa, akan meninggalkan bekas yang sangat besar ketika tabungan itu kemudian berubah wujudnya menjadi sebuah Al-Qur’an. Hingga ketika kemudian Mushaf itu telah mampu terbeli, akan muncul rasa cinta dan rasa sayang yang luar biasa terhadap mushaf yang didapatkan dengan susah payah tersebut. Mereka akan lebih rajin membacanya, lebih mau dan mampu merawatnya, lebih berhati-hati dalam meletakkannya, dan bahkan tidak mudah meminjankannya kepada orang lain.

Sebenarnya kesan yang besar ini tidak mesti menggunakan cara di atas. Kita bisa memberikan Mushaf sebagai hadiah. Akan tetapi pemberian hadiah tersebut hendaknya menyesuaikan dengan momentum yang spesial kepada sang anak. Misalnya : Jika mereka bisa khatam Al-Qur’an sekali selama Ramadhan, akan dihadiahi satu Mushaf yang istimewa. Kesan yang mendalam juga bisa ditingkatkan apabila yang memberikan merupakan orang yang spesial, misalnya Ibu yang sangat dicintai.

Sebagai sebuah catatan, di rumah saya terdapat banyak sekali mushaf sehingga saya tidak memiliki kesadaran untuk memiliki satu mushaf milik sendiri hingga duduk di bangku SMA, mengingat banyaknya mushaf yang tersusun di dalam lemari. Pada tahun-tahun terakhir, saya akhirnya membeli sebuah mushaf dengan uang hasil kerja sampingan. Namun tidak ada kesan yang istimewa di dalamnya membuat saya sangat jarang membaca menggunakan mushaf tersebut dan lebih sering menggunakan mushaf lainnya. Baru kemudian pada minggu ke dua bulan November 2009, saya dihadiahi sebuah mushaf yang kata pemberinya kala itu : Agar kamu bisa rajin baca Qur’an. Pemberinya adalah salah satu wanita yang paling saya cintai, dan diberikan pada momentum yang tepat. Maka serta merta tumbuh sebuah cinta yang luar biasa pada mushaf tersebut.

Mushaf itu kini masih ada dan selalu saya bawa ke manapun saya pergi; di dalam masjid, di rumah, di kos, di dalam kelas, di tengah lapangan, hotel, stasiun, terminal, shelter, bandara, di atas pesawat, bus, kereta, angkot, kapal, di dalam hutan, di tepi pantai, di tepi sungai, parkiran, entah di mana lagi.

IMG_2635

Terimakasih untuk Mbak ku, wanita spesial yang telah berbaik hati menghadiahkan saya mushaf cokelat yang berbau harum. Selamat menuggu kelahiran bayi mungil ke dua.

Juga piala kaca baik hati, yang mengizinkan saya membaca Surah Al-Mulk, Al-Qolam, dan Al-Haqqoh dari Mushafnya.

Mudah-mudahan Alloh mempertemukan kalian berdua di surga.

Ruang Asisten Laboratorium Ilmu Makanan Ternak

Fakultas Peternakan UGM

Ahad, 06 Oktober 2013 ; 13:23

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

One thought on “Agar Mereka Mencintai Al-Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s