Benarkah Tauhid Paling Murni Adalah Milik Iblis ?

Suatu hari di bulan Agustus lalu, saya bersama beberapa orang rekan tengah berada di dalam sebuah bis kecil di Kota Manado. Pagi itu, kami berniat untuk mencari sarapan berupa bubur Manado yang-katanya-telah mahsyur ke seantero nusantara.  Saya kala itu duduk di bangku paling belakang sambil mengutak-atik ponsel yang saya miliki. Maklum, mungkin karena baru beberapa hari sebelumnya, ponsel saya akhirnya kembali bisa menerima sinyal operator secara normal setelah dua bulan lebih pengabdian di sebuah desa terpencil di Gorontalo.

images

Saya tidak sendiri. Setidaknya ada tujuh hingga delapan orang lain rekan saya di dalam bis mini itu. Dan sebagian besar di antara mereka menghabiskan waktu dengan berdiskusi tentang segala hal. Sedangkan aku sendiri sibuk melihat-lihat isi kota Manado yang ternyata cukup maju, setidaknya lebih tertata dari Kota Gorontalo.

Dalam perjalanan itulah kemudian, tiba-tiba salah seorang rekan saya di dalam bis berkata –yang redaksinya saya formalkan kurang lebih seperti ini- “menurut salah seorang cendekiawan di negeri ini (saya tidak ingin menyebutkan namanya), semurni-murni tauhid adalah tauhidnya iblis. Lihatlah, betapa iblis tidak ingin bersujud kepada Adam, karena bersujud adalah bentuk ibadah. Ia tidak ingin sujudnya yang selama ini hanya ia persembahkan kepada Alloh harus sekali ini ia persembahkan untuk sesosok makhluk baru bernama Adam

Mendengarnya saya kemudian tersenyum. Agak jengkel sebenarnya. Mungkin karena saya mengetahui bahwa cendekiawan yang rekan saya maksudkan di atas adalah seorang ilmuan yang cukup didengar suaranya di kalangan masyarakat muslim Indonesia, namun sayangnya ia menimba ilmu di negara barat yang cenderung men-stigma-kan Islam sebagai agama yang keras dan perlu di-liberalisasi-kan, atau di-sekulerisasi-kan.

Saya kemudian memberikan penjelasan bahwa apa yang dikatakan oleh rekan saya terkait pernyataan cendekiawan tersebut, adalah tidak benar.

Salah satu inti dari Tauhid, adalah ketaatan kepada Alloh Ta’ala dan Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka oleh karena itulah, meskipun iblis ketika itu tidak ingin bersujud kepada Adam karena sujud adalah bentuk ibadah, padahal ibadah hanya berhak dipersembahkan kepada Alloh semata, Iblis tetap mendapatkan murka yang besar dari Alloh. Bayangkan saja, ibadah yang telah iblis lakukan selama ini harus menjadi sia-sia karena ketidaktaatannya kepada Alloh Subhanahu wata’ala untuk satu hal saja.

Lagipula jika kita cermati dalam nash-nash Al-Qur’an, kita akan mendapati bahwa tindakan pembangkangan pertama dalam semesta alam ini dilakukan oleh Iblis bukanlah karena ia ingin mempersembahkan ibadah hanya kepada Alloh Tabaroka wa ta’ala, melainkan lebih kepada ia merasa dirinya yang diciptakan dari api, lebih baik ketimbang Adam ‘alaihissalam yang diciptakan dari tanah.

Sebagai contoh dari bukti lain bahwa salah satu inti dari Tauhid adalah ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya, adalah sebuah kisah yang sangat mahsyur yang dialami oleh Bapak Para Nabi, Ibrahim ‘alaihissalam.

Suatu ketika, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam diperintahkan untuk menyembelih puteranya yang sangat ia cintai, Ismail ‘alaihissalam. Dipenuhi dengan keresahan, Nabi Ibrahim pun menunggu apakah benar perintah yang datang melalui mimpi itu adalah benar-benar merupakan dari Alloh, atau tipu daya iblis. Singkat cerita, ia akhirnya benar-benar meyakini bahwa hal tersebut merupakan perintah dari Alloh Subhanahu wata’ala dan memutuskan untuk menyembelih anaknya, Ismail, sebagai wujud ketaatan, yang mengalahkan nalurinya sebagai ayah yang bertahun-tahun merindukan seorang putera. Begitupula dengan Ismail puteranya yang ketika itu masih kecil, ia bersabar meskipun kilatan pedang sudah memantulkan wajahnya. Akhir kisahnya sebagaimana yang kita ketahui selama ini, Alloh yang Maha Baik kemudian menggantikan Ismail yang hampir saja disembelih, dengan seekor kibas (kambing/domba) dan selamatlah Ismail ‘alaihissalam.

Salah satu dari sekian banyak hikmah yang dapat kita ambil dari cerita yang terkenal sepanjang masa di atas adalah betapa murni dan agungnya Tauhid yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim. Dan kita dapat melihat bahwa salah satu inti dari Tauhid adalah KETAATAN kepada Alloh (dan RasulNya). Tindakan membunuh orang lain dengan sengaja, tentu saja merupakan dosa yang teramat besar. Namun jika hal itu kemudian menjadi perintah dari Alloh, maka ia harus dilakukan.

Seperti halnya dengan apa yang kini banyak terjadi di Indonesia, dan dunia pada umumnya. Dapat kita temukan betapa banyak ritual-ritual ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun kemudian pelakunya mengatakan bahwa ritual-ritual ibadah tersebut adalah baik, namun jika tidak ada perintahnya dari Alloh ataupun dari Rasul-Nya, maka tentu saja hal itu menjadi tidak baik. Karena kembali, inti dari Tauhid bukanlah pada ritual atau perwujudan ibadah yang kita lakukan, melainkan adalah ketaatan kepada Alloh dan RasulNya.

Namun perlu pula kita yakini bahwa, syariat Islam sudah sempurna. Tidak ada yang telah ditetapkan dalam syariat ini melainkan adalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidaklah tertinggal sesuatu pun yang mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan semuanya kepada kalian (HR. Thabrani, Shahih)

Wallahu a’lam bisshawab.

Kamar Bercat Biru, Karang Asem, Sleman

21 September 2013, 15:52

Ahmad Muhaimin Alfarisy

 

Advertisements

2 thoughts on “Benarkah Tauhid Paling Murni Adalah Milik Iblis ?

    • konsekuensi dri Tauhid itu al-mahabbah. cinta kepada Allah
      lalu dari mana bisa mengatakan bertauhid tapi tidak cinta

      yang benar, Iblis sombong. Itu saja. Di Al-Qur’an juga sudah jelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s