Catatan ke-7

Catatan ke-7

Pinogu, 7 July 2013

Bismillahirrohmanirrohim.

Mulai tanggal 7 July 2013, aku telah menginjakkan kaki di Kecamatan Pinogu, kurang lebih untuk 50 hari ke depan yang direncanakan akan kembali ke Suwawa Timur pada tanggal 25 Agustus bulan depan. Maka pada catatan berikutnya, aku akan menuliskan kata “Pinogu” pada bagian atas catatan harian ini. cerita kali akan sedikit lebih panjang karena berisi kehidupanku selama kurang lebih 2 hari, yang sementara kemairn, aku tidak sempat menuliskannya.

Perjalanan pada tanggal 6 July dimulai ketika aku menjadi peserta yang paling akhir tidur beristirahat dan yang paling pertama pula  untuk bangun. Alhamdulillah Alloh memperkenankan aku untuk menlanjutan kebiasaan yang sudah tidak ingin aku tinggalkan. Kami lalu bersiap untuk berangkat menuju Pinogu tepat pukul 07:30 dari rumah kepala camat Suwawa Timur yang berada tepat di pinggir hutan lindung Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, yang akan kami tempuh berikutnya menuju kecamatan Pinogu. Sejak awal kami sudah diingatkan baik-baik bahwa perjalanan yang akan kami tempuh adalah perjalanan yang akan sangat berat, yakni kurang lebih sekitar 40 KM dengan rute yang naik turun bukit, melewati sungai dengan jalan setapak dan jalan berlumpur. Perjalanan ini biasanya ditempuh sekitar 5-10 jam dengan berjalan kaki oleh penduduk lokal. Namun tentu saja hasilnya bisa berbeda untuk kami yang pendatang baru dan terbiasa dengan kondisi jejalanan di kota yang halus dan mulus.

jalan

Pukul 07:30, setelah berdoa, kami memulai perjalanan sekitar 20 orang lebih. Kami membawa perbekalan yang tidak banyak, yang hanya kami butuhkan selama perjalanan, atau barang-barang yang tidak mungkin bisa dititipkan melalui ojek. Sejak awal kami diwanti-wanti untuk membawa barang maksimal 5 Kg untuk mengurangi kemungkinan kehabisan energi. Aku sendiri membawa perbekalan yang juga seadanya, berupa air 1,5 liter, nasi bungkus, jas hujan, Al-Qur’an, serta tas berisi laptop dan beberapa berkas lain yang total berat semuanya mungkin mendekati 7 Kg. Alhasil, belum sampai pada pemberhentian pertama, aku kelelahan dan hampir menyerah. Selama permulaan perjalanan aku selalu berdoa agar Alloh memudahkan langkahku hari itu. Dan alhamdulillah, untungnya saat kami berhenti untuk beristirahat, Pak Basyir Noho, salah satu anggota tim kami yang berangkat dengan menggunakan ojek berhenti di lokasi kami dan aku berkesempatan untuk bisa menitipkan tas berisi laptop dan berkas seukuran 5 Kg kepada beliau. Alhamdulillah, untungnya beliau menerima.

Foto-0120

Perjalanan menuju lokasi KKN di Pinogu lalu kami lanjutkan dengan berjalan kaki menaiki bukit dan menuruni lembah. Terkadang pula kami harus menyeberangi sungai-sungai kecil yang jernih airnya. Jarak garis lurus antara kecamatan Pinogu dengan Suwawa Timur sebenarnya hanyalah 15 KM. Akan tetap rute yang berkelok, dan naik turun mebengkakkan jarak menjadi sekitar 40 KM. Beberapa rekanku tumbang selama perjalana. Mungkin karena beban yang berbed-beda. Untuk mengurangi beban, sebagian diantara mereka lalu meminta dibawakan bebannya, dan termasuk pula kepadaku. Untuk hal ini, aku teringat pada sebuah quotes yang dulunya pernah aku buat pada situs jejaring sosial Facebook

“Jangan menolak permintaan tolong orang lain, karena barangkali hanya engkau yang mau menolongnya”.

Oleh karena itu, tidak satupun yang meminta tolong padaku untuk dibawakan bebannya kemudian aku tolak. Dan melihat langkah kaki mereka lebih enteng cukup menyenangkan dan menenangkan untukku.

Pada perjalanan itu pula, aku benar-benar menemukan bahwa karakter manusia akan semakin terlihat selama perjalanan. Aku menemukan tipe orang yang benar-benar survival (diantaranya ada yang mengisi ulang botol minumnya dengan air sungai yang kebetulan tidak jernih karena kehabisan bekal, dan mengakali rasa air yang aneh dengan memasukkan permen ke dalam botol minumnya), humoris dalam keadaan apapun, egois, pemarah, penyabar, tangguh, terlalu banyak bicara, dan sebagainya.

Tentu saja karena fisik yang tidak biasa menghadapi rute semacam ini, kami beberapa kali, bahkan sangat sering mampir untuk berisitirahat.

istirahat Dan sekali waktu beristirahat bisa memakan waktu dari 5 hingga 30 menit. Waktu istirahat kami pakai untuk memijat-mijat otot kaki seperti betis dan paha, punggung, atau mengolesi kaki kami dengan balsem, freshcare, dan sejenisnya, atau sekedar melepaskan lintah dan pacet yang menempel pada tubuh kami. Beberapa kali istirahat juga kami manfaatkan untuk menghabiskan bekal seperti roti, crackers, permen, dan apapun yang bisa dijadikan panganan.

pohulongo

Kami sampai pada penyeberangan atau dua pertiga perjalanan pada pukul 15:30 setelah 8 jam perjalanan dengan kaki. Penduduk setempat biasa menyebut wilayah penyeberangan ini dengan sebutan “Pohulongo”, yakni sebuah lokasi yang sudah termasuk bagian dari Kecamatan Pinogu. Di lokasi ini hanya terdapat 3 atau 4 unit rumah. Pada titik ini pula sebagian besar di antara kami benar-benar kehabisan energi. Keadaan yang terlalu lelah membuat sebagian di antara kami benar-benar seolah enggan melanjutkan perjalanan 10 km lebih yang tersisa. Bahkan termasuk juga diriku.

Di titik ini aku merasa sangat haus dan sangat lapar. Akan tetapi bekal yang kami bawa seperti air dan makan siang semuanya sudah hampir habis. Tapi untunglah kemudian, penduduk lokal yang ikut melakukan perjalanan bersama kami menawarkan aku sebungkus makanan yang ia bawa dan itu sangat cukup untuk mengumpulkan sisa-sisa energi untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan air, aku hanya mengandalkan sisa air  minum yang aku miliki. Sebenarnya di Pohulongo terdapat sebuah warung yang menjajakan minuman kemasan. Akan tetapi harganya terlalu mahal yakni Rp.8.000,00 per botol ukuran 600ml. Ini adalah harga kedua termahal yang pernah aku temui setelah di dalam kabin pesawat Lion Air yakni Rp. 10.000,00 dengan ukuran yang sama. Selain itu, saat itu aku juga sedang tidak membawa uang pas atau uang dengan nominal yang lebih kecil dari 50ribuan. Sayang jika membelanjakannya. Toh dalam benakku, perjalanan yang akan ditempuh sudah cukup dekat (sebuah asumsi yang kemudian aku sadari salah besar).

lumpurPukul 17.00, perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki seperti halnya perjalanan sebelumnya. Namun kali ini medan yang kami tempuh sangat berbeda dengan medan sebelumnya. dan tentu saja lebih berat. Hal yang paling memberatkan kami dalam rute kali ini adalah medan yang berlumpur, dan diperparah dengan turunnya hujan. Sehingga jadilah posisi kami kurang lebih ; kelaparan, kehausan, kelelahan, kehabisan energi, kehujanan, jalanan berlumpur (yang tentu saja akan sangat memberatkan sepatu/sandal karena tanah akan menempel dan licin), dan yang lebih menambah kepayahan kami adalah tanpa penerangan.

Pemberangkatan menuju pusat permukiman di Kecamatan Pinogu dibagi menjadi 3 kloter. Hal ini terpaksa kami lakukan karena beberapa di antara kami pada pukul 17:00, memiliki tingkat kesiapan yang berbeda. Aku sendiri pada awalnya termasuk kloter yang pertama yang berjumlah sekitar 7-8 orang. Akan tetapi jenis sandal yang aku pakai sangat memberatkan langkah kaki karena tanah lumpur yang lembek menempel di seluruh permukaan sandal sehingga memperberat dan memperlambat langkahku. Hingga akhirnya kloter kedua yang berujumlah sama kira-kira 7-8 orang menyusulku dan membersamai perjalananku.

483434_531357610208626_493254112_n

Kami akhirnya memasuki waktu maghrib ketika perjalanan dari titik penyeberangan dari Pohulongo menuju permukiman pusat di Kecamatan Pinogu belum mencapai separuh. Tanpa penerangan yang baik, tanpa listrik, tanpa sinyal ponsel dan radio, dan medan yang “mengerikan”. Di tengah perjalanan itulah kami mendengar bahwa 3 orang dari 4 orang yang berada di kloter terakhir mengalami masalah. Salah satu di antara mereka berlari mengejar kami yang berada mungkin sekitar 5 Km di depan dan memberitahukan keadaan 3 orang rekan yang tertinggal yang sudah tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kelelahan. Salah satu diantara mereka mengalami cedera lutut yang merupakan cedera lama. salah satu mengalami kedinginan yang parah, dan lainnya kelelahan.

Rekan kami –yang memang memiliki fisik dan pengalaman di hutan yang lebih baik- lalu melanjutkan larinya menuju desa terdekat dengan penerangan seadanya dan tentu saja dengan medan yang masih sama, dengan tujuan untuk memanggil ojek guna menyelamatkan tiga orang rekan kami yang terjebak di tengah hutan.

Kami, tim kloter kedua kemudian –sebagai wujud kekhawatiran- memutuskan untuk berhenti di lokasi kami saat itu dan menunggu hingga ada kejelasan dari 3 orang rekan kami yang saat itu masih belum jelas kondisi dan keadaannya. 2 jam menunggu, akhirnya bantuan 4 ojek datang dan menyelamatkan 3 orang rekan kami yang tertinggal di belakang. Setelah merasa aman, barulah kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan yang kami lakukan setelah itu bahkan masih memakan waktu 2 jam. Kami tiba di desa terdekat bernama Bangio sekitar pukul 22:15. Alhamdulillah, di sana kami diberi sajian makan malam dan air minum yang segar. Namun perjalanan harus segera kembali kami lanjutkan karena desa Bangio bukanlah lokasi yang pelaksanaan program KKN yang kami tuju. Alhamdulillah, untungnya saja rute kali ini masih lebih baik daripada rute sebelumnya. Hanya ada satu tanjakan dan satu turunan curam yang harus kami lalui. Pukul 23:10, kami tiba di Kantor Camat Pinogu dan menjadi tim terakhir yang tiba.

Segera setelah kami sampai, kami berbenah diri, membersihakan lumpur-lumpur yang menempel. Sebagian di antara kami lalu mandi, namun tidak denganku. Lalu berwudu’ dan menjama’ sholat Isya dan Magrib.

Tubuhku kelelahan, dan nyaris semua ototku sakit. Segera setelah sholat, aku mencari ruang kosong di ruang pribadi milik Camat Pinogu untuk merebahkan diriku, sementara sebagian besar rekananku yang lain, yang telah tiba lebih dulu, telah lelap dalam tidur mereka. Aku tak sabar menunggu pagi. Ingin melihat sebetapa indah bumi Pinogu.

Sejujurnya aku bahagia dalam perjalanan ini. dan sungguh, aku merasakan sebuah kerinduan yang teramat dalam akan sesuatu. Ya, sesuatu….

Kantor Camat Pinogu,

Mas Abdillah

Advertisements

One thought on “Catatan ke-7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s