Ada apa dengan Hati ??

Alhamdulillah, setelah selama dua bulan  berada di tengah hutan belantara yang tidak  mungkin mudah mendapatkan akses ilmu seperti halnya di Jogja, saya kembali bisa menghadiri kajian Tafsir Surat An-Nur seperti yang biasanya selalu saya hadiri setiap senin, pukul 16:00, di sebuah Masjid bernama Nurul Ashri Deresan yang berada di sebuah lingkungan yang sangat hangat. Kajian sore itu dimulaikan dengan agak sedikit terlambat, dan seperti biasa dimulaikan dengan tasmi’ (rapalan Al-Qur’an) yang kali itu adalah surat An-Naba’. Yang menjadi pembawa acara kali itu adalah rekanku yang pernah sama-sama tinggal di Sendowo, Drajat Jiwandoko. Pemuda berkulit putih yang saat ini tinggal di asrama Turki sejak tahun lalu.

Setelah menunggu agak lama, Ustadz Syatori Abdurrouf yang menjadi pemateri seperti biasa akhirnya datang dan kali ini beliau memberikan materi tentang pentingnya pengendalian hati. Setidaknya itu judul yang saya berikan. Berikut adalah beberapa inti kajian yang beliau sampaikan. Semoga bermanfaat.

Mencuri-Sepotong-Hati

Memaafkan

Seringkali kita mengatakan bahwa memaafkan adalah perkara yang mudah. Namun ternyata pada kenyataannya memaafkan adalah hal yang lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan. Karena memaafkan tentu saja tidak selesai dengan berkata “aku memaafkanmu” atau “aku telah memberimu maaf”. Karena dalam memaafkan, setidaknya terdapat dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu,

  • Menghilangkan dendam, sakit hati, rasa dongkol, dan segala yang sejenis dengannya
  • Menghilangkan keinginan untuk membalas

Lalu masihkah mudah memaafkan ? beratkah ? lalu kenapa memaafkan kemudian masih menjadi sesuatu hal yang berat ?

Memaafkan tentu saja –jika kita adalah insan kebanyakan- adalah perkara yang berat. Hal ini disebabkan karena memaafkan adalah pekerjaan hati. Orang yang masih berat memaafkan kesalahan orang lain adalah karena perjalanan hidupnya belum sampai ke hati. Jika belum sampai ke hati, maka apa-apa saja yang berada di dalam hati akan terasa sangat berat untuk dilakukan.

Untuk lebih mudah memahaminya, maka kita bisa menganalogikannya dengan perjalanan haji.

Zam-zam

Untuk mendapatkan air zam-zam, maka tentu saja tidak akan mudah mendapatkannya di Jogja. Kalaupun kita mendapatkannya, maka apakah kemudian banyak ? tentu saja tidak!. Kita harus berangkat ke lokasi di mana air zam-zam tersedia. Dari jogja, kita harus berangkat ke negara Arab Saudi untuk mendapatkan air zam-sam. Namun setelah sampai di Jeddah, apakah air zam-zam sudah tersedia dengan banyak ? Sama. Jawabannya adalah Tidak !. lalu di mana kita baru bisa menemukannya dengan mudah ? adalah ketika kita akhirnya sampai di dalam Masjidil Haram, tempat di mana mata air zam-zam berada.

Begitupun dengan hati. Apabila perjalanan kita telah sampai di hati, maka apapun yang berkaitan dengan hati bisa menjadi mudah.

Jika dilihat dari sudut pandang hati, maka manusia dibagi menjadi 3 golongan, yaitu manusia nafsu, manusia akal, dan manusia hati.

  • Manusia nafsu

Adalah manusia yang tidak ingin dan tidak pula tertarik pada kebaikan. Manusia jenis ini hanyalah tertarik untuk memenuhi hawa nafsunya. Padahal nafsu selalu mendorong kepada keburukan dan kejelekan. Manusia jenis ini adalah tipe manusia yang paling menyedihkan. Di mana ia tidak mengetahui bahwa dunia ini akan berakhir dan kematian selalu mengintai, namun tidak ada upaya untuk mempersiapkannya. Bahkan justru sibuk dalam kubangan maksiat.

  • Manusia akal

Adalah manusia yang sebenarnya menginginkan kebaikan, namun tidak tertarik untuk melakukannya. Manusia jenis ini sebenarnya mengetahui hal-hal yang baik, dan hal-hal yang benar, dan tentu saja mengtahui hal-hal yang akan menghantarkannya kepada kebaikan dan kebenaran. Dan tentu saja pada goal akhir yakni kebahagiaan. Akan tetapi nafsu dan kemalasan terlalu menguasainya sehingga ia tidak tertarik untuk menempuh jalan-jalan yang akan menghantarkannya pada kebaikan-ebaikan itu. Misalnya, ia menginginkan surga, namun ia malas beribadah wajib, apalagi sunnah. Ia takut akan neraka, namun tetap saja menyibukkan diri hanya dengan perkara dunia saja.

  • Manusia hati

Yakni manusia yang sangat menginginkan kebaikan dan tertarik kepadanya. Orang-orang yang merupakan bagian dari “manusia hati” melihat kebaikan-kebaikan sebagai sesuatu hal yang diinginkan dan tertarik untuk melakukannya. Misalnya kesabaran, keikhlasan, dan segala hal-hal yang merupakan perkara-perkara yang bernilai akhirat

Hati yang jernih pula yang akan menghantarkan seorang insan kepada kebahagiaan. Hati yang jernih pula yang akan menghantarkan seorang insan kepada kedamaian. Dan yang terpenting, hati yang jernih pula yang akan menghantarkan seseorang kepada surga.

Dalam kesempatan itu pula beliau menjelaskan pentingnya rasa “takut”-nya seorang suami kepada istrinya. Yakni ketakutan akan

  • Tidak dapat mebahagiakannya
  • Tidak dapat membimbingnya
  • Tidak dapat menafkahinya
  • Dan ketakutan terbesar seorang suami kepada istrinya adalah takut tidak mampu menghantarkan istrinya ke Surga.

Ramadhan menjadi momentum untuk menjadi katalis dalam mempercepat perjalanan kita menuju hati. Karena dalam Ramadhan, kita dilatih oleh 3 aspek yakni Shiyam, Qiyam, dan Dawam.

  • Shiyam, yakni mengosongkan diri dari segala syahwat dan kesenangan duniawi
  • Qiyam, yakni menegakkan pilar-pilar kesenangan ukhrawi. Seorang ulama salaf berkata : tidak akan mungkin seseorang mendapatkan kenikmatan surga jika ia tidak mendapatkan kenikmatan itu di dunia. Seseorang kemudian bertanya, apa kenikmatan itu di dunia wahai syaikh ? beliau lalu menjawab : Kelezatan dalam beribadah. Qiyamullail mendidik kita untuk merasakan betapa nikmatnya berdua-duaan dengan Rabbul ‘alamin. Di mana engkau bisa bercerita apa saja, dan meminta apa saja. Yang kenikmatan itu akan muncul dalam keindahan akhlakmu, kesejukan pandangan matamu, kemuliaan tutur katamu, dan yang lebih penting lagi adalah kebahagiaan yang terpancar dalam wajahmu.
  • Dawam, satu bulan shiyam dan qiyam tentu saja seharusnya sudah cukup untuk kita berlatih, sehingga apapun yang kita lakukan selalu bernilai AKHIRAT ^^

Di sela-sela kajian, beliau menampilkan sebuah video yang sangat mengharukan. Di mana terdapat seorang yang dengan keterbatasan fisik berupa ia dilahirkan tanpa kedua tangan. Ia adalah seorang hamba Alloh yang taat, yang selalu beribadah dengan baik. Namun ternyata, dalam ketidaksempurnaan fisiknya, ia masih bersyukur dilahirkan dengan kondisi demikian. Karena dengan kondisi demikian, ia melihat begitu banyak orang lain yang bersyukur dengan kesempurnaan fisik yang mereka miliki.

-END-

Rasa-rasanya aku ingin terjebak berdua saja bersama Alloh, dan orang-orang soleh yang Alloh cintai. Sungguh wahai Alloh, aku lelah dengan godaan-godaan akan nafsu dunia. Mudah-mudahan ya Robbi, Engkau mau menyelamatkan aku. Sungguh Engkau Zat yang Maha Mulia, Maha Pengampun, dan Maha Baik.

09-092013, 14:25

Selasar Geografi

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s