Catatan ke-3

Catatan Ke-3
Jakarta-Makassar-Gorontalo, 2 July 2013

Pukul 02:30

Untuk kedua kalinya dalam seminggu ini aku harus terbangun di jam yang sama. Namun bedanya, jika kemarin adalah karena ketidaksengajaan, kali ini adalah sebuah hal yang direncanakan. Tiket pemberangkatan tercetak dengan jam take off adalah pada pukul 04:30. Tentu saja kami harus bersegera, meskipun jarak lokasi singgah kami di Tangerang yang notabene relatif dekat dengan Bandara Soekarno Hatta, akan tetapi barang yang kami bawa sangat banyak. Wajar saja banyak, karena selain membawa perlengkapan pribadi yang akan kami pakai selama 2 bulan, kami juga membawa perlengkapan program. Beberapa diantaranya adalah barang-barang yang sebenarnya agak kami khawatirkan “terlarang” untuk masuk dalam tubuh pesawat.

Pukul 02:30 dini hari juga, aku akhirnya memutuskan untuk mandi dengan pertimbangan perjalanan akan sangat panjang sementara aku tak menjamin apakah akan bisa mandi hingga malam. Hehehe. Sungguh alasan yang tidak logis, benar-benar membuktikan otak-ku belum loading dengan sempurna. Pukul 03:00 kami berangkat ber 16, 1 diantaranya adalah dosen pembimbing lapangan. Sedangkan sisa 6 orang lagi, akan diberangkatkan esok hari kemudian dengan pertimbangan harga tiket yang lebih murah.

Memberangkatkan 16 orang di waktu yang bersamaan, sementara tidak semua dari kami berpengalaman dalam pemberangkatan dengan moda transportasi pesawat, ternyata sempat membuat kewalahan. Tercatat kami antri hingga tiga kali untuk melakukan check-in di 3 tempat yang berbeda. Namun karena tingkat pelayanan Bandara Soekarno Hatta yang mungkin sedang kurang baik serta membeludaknya jumlah penumpang membuat kesan yang ditimbulkan agak kurang menyenangkan. Ini adalah yang pertama bagiku merasakan pelayanan Bandara terbesar di Indonesia itu dengan kesan yang tidak baik. Selain itu, properti KKN yang kami bawa juga sempat bermasalah seperti larangan membawa cairan-cairan “aneh”. Tapi untung saja, atas usaha lobi yang baik oleh dosen kami, semuanya akhirnya bisa diloloskan. Kami lalu bersegera berjalan menuju ruang tunggu pesawat, dan ternyata kami bahkan tidak sempat duduk karena boarding time telah tiba dan sebagian penumpang jurusan Makassar dan Gorontalo sudah berjalan menuju pesawat. Kami sendiri termasuk yang paling terakhir masuk ke pesawat.

Tampak wajah-wajah yang penuh dengan senyum sumringah. Mungkin karena sebagain besar diantara kawan-kawan yang membersamaiku, ini adalah pengalaman “terbang” pertamakali. Sedangkan aku, ini akan menjadi pengalaman pertama terbang menuju arah timur Indonesia. Pesawat Lion Air yang kami tunggangi berdesing meninggalkan ufuk Ibukota tepat pukul 04:45, mengangkasa di atas kelap-kelip lampu di daratan. Penerbangan memakan waktu sekitar 2 jam lebih dan tiba di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar sekitar pukul 08:00 WITA (Waktu Indonesia Tengah). Sebagai catatan, ini juga menjadi pengalaman pertama sebagian besar diantara kami merasakan Waktu Indonesia Bagian Tengah.

Kami transit di Makassar selama kurang lebih 90 menit. Sedangkan waktu selama itu kami gunakan untuk mengambil beberapa foto, serta membeli roti. Pukul 09:30 kami kembali melakukan boarding dengan pesawat yang sama untuk melakukan perjalanan menuju Gorontalo. Perjalanan kali ini memakan waktu hingga 1 jam.

Kami telah benar-benar tiba di Bandara Gorontalo tepat pukul 10:30 waktu setempat dan langsung dijemput oleh rekan-rekan dari BAPPEDA Gorontalo setelah selesai mengurus barang-barang kami yang di-bagasi-kan. Kami lalu langsung diantarkan untuk makan siang di sebuah restaurant ikan bakar. Lalu melaksanakan ibadah sholat zuhur di masjid terdekat, berkemas dan bersih diri di sebuah rumah singgah sampai pukul 14:30. Setelahnya kami diantarkan menuju sebuah lokasi peresmian sebuah gedung baru yang dihadiri oleh Bupati Kabupaten Bone Bolango, Hamim Pou., S.Kom., M.Hum hingga pukul 16:30.

Sungguh hari yang melelahkan. Kami lalu diantarkan menuju homestay masing-masing.  Padatnya jadwal membuat sebagian diantara kami mengalami masalah untuk melaksanakan sholat ashar, termasuk diriku. Hal ini terutama karena lokasi penyambutan dan lokasi homestay cukup berjauhan sementara mobil yang kami tumpangi tidak sempat berhenti untuk keperluan sholat. Kami akhirnya baru sempat menunaikan ibadah sholat ashar tepat pada pukul 17:30 di sebuah mushollah yang terlihat sangat tidak terurus setelah salah satu mobil yang kami tumpangi kemudian sampai padahomestay pertama yang memuat 7 orang. Tidak terurus ? Ya. Tempat wudu’ tidak tersedia dan terpaksa mengambil dari rumah warga terdekat. Di pelatarannya terdapat beberapa bongkah kotoran hewan –umumnya kotoran ayam-, beberapa hewan seperti anjing berkeliaran di sekitar halaman dan karpet yang digunakan terasa sangat kering dan berdebu. Selesai sholat ashar, kami lalu kembali diantarkan menuju 3 homestay lainnya dan baru tiba setelah waktu magribh. Aku sendiri diistirahatkan bersama dua rekanku yang berasal dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Pertanian. Homestay kami adalah rumah sederhana (sebenarnya cukup mewah bagiku) milik keluarga Bapak Rizal Moobuto. Di sini kami lalu memutuskan untuk men-jama’ sholat kami lalu kemudian beristirahat.

Bagiku sendiri, hari ini memberikan banyak kesan. Kesan pertama yang tentunya tidak akan aku lupa adalah, hari ini akhirnya untuk pertamakalinya aku menginjakkan kaki di tanah kelahiran orangtuaku (lebih tepatnya ibuku) Sulawesi. Melihat panorama citra kota Makssar dari atas memang berbeda dari langit Jawa. Sempat terbayang olehku barisan armada kerajaan Gowa-Tallo ketika melihat ujung pantai kota Makassar serta membayangkan pertarungan sengit antara tentara pribumi dengan tentara kompeni. Namun hanya sesaat karena pesawat segera menapakkan kakinya di bumi untuk kami melakukan transit.

di atas langit makassar

Beginilah Langit Makassar sesaat sebelum kami transit

(Foto Oleh: Eni Kaeni, 2013)

Kesan kedua adalah, Sinyal operator AXIS sudah hilang sejak di Makassar. Kaget ?? tentu saja !. Makassar adalah salah satu kota terbesar di Indonesia. Jika di Makassar saja axis sudah “hilang”, lalu bagaimana dengan di Gorontalo ? Akh, benar saja ! setibanya kami di Pelabuhan Udara Djlalaluddin Gorontalo, prediksi tidak meleset. Bahkan termasuk Operator Three. Dan kesan yang terakhir adalah, meskipun terdengar agak konyol, namun hari ini adalah pertamakalinya setelah sekian lama aku kembali melihat pelangi. Entah ataukan selama ini aku tak pernah memperhatikan langit Jawa atau kehadiran pelangi di langit Jawa sangat jarang. Namun pelangi itu cukup berkesan. Setidaknya untukku.

Dan untuk Gorontalo, aku melihatnya sebagai sebuah kota yang kecil. Mungkin karena ia merupakan Provinsi Pemekaran dari Sulawesi Utara. Jalanan-jalanan yang ada sangat sempit jika dibandingkan dengan jejalanan yang ada di Jawa. Kendaraan yang ada juga masih sangat sedikit. Fasilitas umum seperti Bank, Pusat Perbelanjaan, Universitas atau bahkan sekolah sangat sedikit aku jumpai, setidaknya di hari pertama ini. Jangan dibandingkan Bandara Djalaluddin Gorontalo dengan Bandar Udara lain seperti yang ada di Pulau Jawa, atau Sumatera. Ia sangat kecil dengan landasan udara tunggal. Namun bagaimanapun bentuknya, mungkin kondisi seperti inilah yang sementara ini baru dibutuhkan untuk ktivitas transportasi udara di Gorontalo. Namun untuk moda transportasi umum, Gorontalo memiliki sebuah kendaraan khusus yang biasa disebut Bentor atau Becak Motor. Bentuknya sangat mudah dibayangkan, yakni sebuah motor yang bagian mukanya dimodifikasi dengan anjungan untuk penumpang becak. Bentuknya agak mirip dengan Bentor yang terdapat di Kota Ponorogo. Namun modifikasi yang diberikan pada bentor yang terdapat di Gorontalo umumnya lebih elegan dibandingkan dengan bentor yang ada di Ponorogo.

Tubuh kami berlima akhirnya menyerah oleh kelelahan yang telah kami rasakan sejak perjalanan dari Jogja menuju Jakarta, dan kini akhirnya sudah sampai di Suwawa Tengah, Kabupaten Bone Bolango. Dalam waktu dekat ini kami akan melakukan perjalanan panjang yang jauh lebih melelahkan. Ke sebuah wilayah yang masih belum pernah kami jamah sebelumnya. Pinogu. Tanah, yang kata mereka, adalah tanah para leluhur Gorontalo.

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s