Muallaf Itu Berasal dari Lesotho

Sudah menjadi “tradisi” bagi saya bahwa ada satu hari dalam seminggu di mana cuaca menjadi paling terik dan suasana menjadi paling gerah. Begitupula halnya dengan agenda. Hanya ada satu hari di mana agenda baik kuliah, bisnis, organisasi atau lainnya menjadi lebih padat dari biasanya. Percaya atau tidak, menurut saya itu adalah hari Jum’at. Hari yang mulia bagi ummat islam. satu-satunya hari di mana ummat islam disyariatkan untuk mengerjakan suatu ibadah yang spesial, yang hanya bisa dikerjakan di hari Jumat, yaitu Sholat Jumat. Yap ! ibadah ini adalah satu-satunya ibadah yang mampu mengumpulkan segenap ummat muslim yang jarang kelihatan saat sholat wajib lainnya, he he he.

Seperti biasa, saya selalu mengupayakan agar ibadah sholat Jumat dapat saya lakukan di Masjid Kampus UGM. Bukan karena alasan apa-apa. Hanya karena di masjid ini saya mampu merasa lebih khusyu’, dan yang paling menyenangkan tentunya bertemu dengan wajah-wajah baru yang jumlahnya mungin ribuan.

masjid-kampus-ugm

Prosesi ibadah Sholat Jumat lalu dimulai ketika salah seorang jamaah dan anggota takmir menyampaikan beberapa pengumuman. Diantaranya seperti himbauan untuk menonaktifkan alat komunikasi, mengedarkan kotak infak (Sebagai info, infak minggu sebelumnya bernilai Rp. 14.067.500,00 , alhamdulillah), mengkondisikan anak-anak kecil, serta satu pengumuman yang membuat seluruh jamaah tertarik yakni, di hari tersebut (15 Feb 2013) akan bertambah satu jiwa yang akan menjadi saksi bahwa tiada sesembahan yang berhak di sembah selain Allah ‘Azza Wa Jall, serta menjadi saksi bahwa Muhammad Bin Abdullah adalah Rosulullah, utusan Allah. Setelah menyampaikan pegumuman-pengumuman, pihak takmir masjid lalu undur diri yang kemudian digantikan dengan Khotib Jumat yang menandakan Ibadah Jumat telah dimulai.

Hanya beberapa menit setelah imam sholat jumat selesai memimpin ribuan jamaah menunaikan prosesi terakhir ibadah jumat, persiapan pengikraran dua kalimat syahadat tersebut dimulai dengan dipimpin langsung oleh Imam.

Sebelum prosesi pengucapan dua kalimah syahadat itu dimulai, salah seorang berwajah arab lalu memimpin sebuah pembukaan dengan berceramah singkat. Beberapa hal yang saya tangkap dari ceramah beliau tang berbahasa arab adalah

  1. Beliau menegaskan kembali bahwa sungguh agama yang diridhoi Alloh hanyalah Islam.
  2. Beliau kembali menegaskan bahwa syahadat adalah pintu masuk ke dalam keridhoan Alloh, yang kemudian membedakan kita dengan orang-orang kafir.

Ohya, ceramah dalam bahasa arab tersebut awalnya tidak saya mengerti sama sekali kecuali bagian pembukaan, hingga kemudian Imam menjelaskan dengan bahasa Indonesia. He he he. Saya jadi ingat sebuah kalimat yang terpajang dalam sebuah brosur, “anda akan lebih mudah memahami islam apabila menguasai Bahasa Arab”.

Saya saat itu berada di Shaf pertama, namun berada sebelah selatan Masjid Kampus, sehingga tidak bisa melihat apa yang tengah terjadi tepat di sebelah mimbar. Karena penasaran, saya lalu berusaha untuk meringsek masuk ke jajaran jamaah yang telah mengerubungi lokasi mimbar. dan alhamdulillah dapat melihat dengan jelas

Photo-0076

Tak lama kemudian Imam mulai memperkenalkan Ikhwan yang sebentar lagi akan menyatakan diri sebagai muslim. Ikhwan tersebut adalah seorang Mahasiswa asing yang berasal dari sebuah negara kecil di Afrika bernama Lesotho, lebih mirip seperti sebuah enclave yang dikelilingi oleh Negara Afrika Selatan.

lsaf

Lesotho Map

Ikhwan tersbut adalah salah seorang mahasiswa Fakultas Psikologi UGM yang telah tinggal di Indonesia selama satu tahun lebih beberapa bulan. Ikhwan tersebut sendiri sudah mampu bercakap-cakap dengan bahasa Indonesia dengan aksen yang oriental. Ikhwan tersebut berinisial M, kalau tidak salah dengar, nama beliau adalah Mokhete ***** *******. Tanda bintang di samping bukanlah karena saya menghendaki untuk menyensor nama ikhwan tersebut. Tapi semata-mata karena saya tidak begitu hapal nama lengkapnya. He he he. Hanya yang saya ketahui nama beliau memiliki 3 suku kata.

Perawakannya cukup besar dengan tubuh yang tidak gemuk, tidak juga kurus. Kulitnya berwarna gelap kecokelatan, namun tidak seperti bangsa afrika lainnya yang sangat gelap.  Laki-laki tersebut berkacamata bingkai hitam, dan tampak sangat terpelajar. Wajahnya selalu menebarkan senyum. Mungkin karena merasa bahagia bisa segera menjadi ummat yang paling beruntung di muka bumi.

Prosesi pembimbingan pengucapan kalimat syahadat lalu dimulai yang dimpimpin langsung oleh Imam Masjid Kampus yang terkenal dengan suaranya yang syahdu dalam mempin sholat berjamaah tersebut. Pengucapan kalimat tauhid diawali dengan membaca kalimta tasmiyah (basmalah) disertai terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Lalu dilanjutkan dengan pelafazan kalimat tauhid dalam bahasa arab yang diikuti sepenggal demi sepenggal oleh Mokhete, dengan aksen orientalnya yang kental. Pengucapan kalimat tauhid tersebut juga dilanjutkan dengan penerjemahan di dalam bahasa Indonesia yang kembali diikuti dengan agak terbata-bata oleh Mokhete. Seluruh jamaah lantas bergemuruh dahsyat dan membuat sebagian orang merinding syahdu. Juga termasuk saya yang baru dua kali melihat prosesi masuk islamnya seseorang. Sebagian diantara mereka lalu memicu tepuk tangan yang lantas diikuti oleh jamaah yang lain. Beberapa di antara mereka yang berada di lantai 2 mengumandangkan takbir ALLOHUAKBAR !! , berkali-kali. Sang Imam erakhir lalu menambahkan bahwa Mokhete sejatinya bukanlah menemukan Islam, namun kembali kepada Islam dengan berdalil bahwa Islam adalah fitrah manusia ketika lahir, yang orang-orangtua merekalah yang menjadikan mereka tidak beriman.

Selanjutnya laki-laki berparas arab yang telah sempat berbicara lantas memimpin do’a. Tidak terlalu lama, hingga kemudian Imam masjid mempersilahkan jamaah untuk memberikan selamat (tahni’ah) kepada Mokhete yang kini telah menjadi muslim. Ratusan jamaah lalu mengantri untuk mengucapkan selamat sembari menjabat tangan anggota baru dalam agama Alloh.

Photo-0078

Satu-satunya hal yang saya sayangkan dari peristiwa mengesankan tersebut adalah riuh rendah tepuk tangan yang dilakukan oleh sebagian jamaah pasca pengucapan kalimat tauhid di lakukan oleh Mokehete yang sayangnya pelakunya sangat banyak. Padahal sudah jelas dalil yang melarangnya. Sedangkan jamaah yang mengumandangkan takbir hanya sebagian yang jumlahnya sangat kecil jika dibandingkan yang bertepuk tangan. Tapi dalam hal ini, mungkin mereka adalah sebagian yang tidak belum mengetahui. Semoga Alloh mengampuni.

Overall, Alhamdulillah …. Selamat datang mas Mokhete…

Selesai ditulis di Selasar Fakultas Geografi UGM

Sabtu, 16 February 2013 11:58

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

3 thoughts on “Muallaf Itu Berasal dari Lesotho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s