Televisi Bikin Bodoh ? Apa Iya ??

child-watching-television-silhouette

Malam ini tepat pukul 21:00 saya singgah di sebuah warung kecil di dekat wilayah kos-kosan saya, tepatnya di Dusun Sendowo, sangat dekat dengan Fakultas Kedokteran Gigi UGM. Di sana, seperti biasa, saya ingin memesan sepiring nasi goreng yang disajikan dengan telur ceplok setengah matang favorit saya. Tepat ketika saya datang, pemilik warung bersama istrinya tengah menonton sebuah acara sketsa komedi yang biasa ditayangkan hampir setiap hari di salah satu stasiun televisi swasta milik seorang pengusaha yang akhir-akhir ini populer dengan bukunya yang berjudul “Si Anak Singkong”. Turut pula di sana dua orang laki-laki. Salah satu di antara mereka berjanggut tebal, dan salah satunya hanya berkaos putih dengan celana pendek. Mereka berempat punya kesamaan, yakni tertawa terbahak-bahak sambil mengarahkan pandangan pada sebuah televisi 14 inch yang menempel di salah satu tembok warung itu.

opera van java1

Mungkin rasanya aneh ketika duduk bersama orang-orang yang sedang tertawa terbahak-bahak namun saya sendiri dalam keadaan diam. Mungkin karena sejatinya, saya memang sangat tidak terpengaruh oleh lawakan-lawakan yang menurut saya, sangat tidak berkelas dan cenderung hanya mempertontonkan hal-hal yang membodohi. Meskipun diantara penontonnya tentu akan berdalih tontonan tersebut merupakan hiburan. Baiklah, mungkin bukan hal itu yang ingin saya bicarakan panjang lebar. Melainkan produk media yang menurut saya kurang bermoral dan cenderung hanya untuk mengedepankan keuntungan belaka.

Saya baru akan menyuap sendok pertama ketika tiba-tiba otak saya bertanya-tanya “siapa sebenarnya yang membiayai program-program tidak bermutu tersebut ?”. segera sisi lain otak saya menjawab “pihak produser dan kawan-kawannya”. Namun tidak berhenti di sana. Saya merenung kembali “Produser, dapat uang dari mana ?!.”. “Ah, gampang. Sponsor, iklan, penjualan merchandise (kalaupun ada)”. “betul juga. Lalu kenapa iklan atau sponsor tersebut mau memberikan uangnya kepada produser?” . “karena Rating”. “Apakah iya??” , “Ya, rating yang tinggi akan membuat iklan akan membanjiri program-program dengan tersebut sehingga program itu terus berlanjut hingga mencapai titik jenuh”.ah, betul sekali. Lalu, pihak Iklan mendapatkan uang dari mana ?” “Jawabnya adalah KITA!”.

Saya terus menikmati butiran demi butiran nasi goreng yang kini telah habis sekitar seperempatnya. Saya menyimpulkan bahwa kita (masyarakat Indonesia) memang adalah alasan kenapa kemudian program-program tidak bermutu itu terus eksis. Karena dari kitalah uang itu mereka dapatkan untuk kemudian men-sponsori program-program dengan pasar yang paling baik di negara ini. Sayangnya program-program yang disajikan di televisi ternyata hampir tidak ada yang berkualitas. Perhatikan saja

  • Sinetron, hampir tidak memberikan kebermanfaatan apa-apa selain pertunjukan amoral yang merusak moral generasi muda. Saya lebih suka menyebutnya program pembodohan. Contohnya dapat dilihat pada sinetron-sinetron yang menayangkan anak-anak kecil (bahkan tingkat SD) yang sudah mengerti/menjalani pacaran.
  • Berita. Berkualitas ? akh tidak juga ! kedua media televisi yang mengaku sebagai sumber berita terpercaya justru tidak bisa dipercaya. Kalau kita perhatikan, setiap hari yang ditayangkan di kedua media tersebut adalah kebobrokan bangsa ini seperti korupsi, gagalnya pemerintahan, pilkada yang curang, dan lain sebagainya. Padahal kita ketahui bersama bahwa kritik terbuka yang dilakukan terus menerus akan justru melemahkan. Maka tampaklah dewasa ini rakyat Indonesia tumbuh sebagai masyarakat yang apatis-pesimistik. Masih ingatkah kita dengan dua orang reporter TV One dalam sebuah acara Live di TKP ketika bencana gempa Padang berkata pada seorang ibu yang anaknya terkubur di sebuah reruntuhan bimbingan belajar : Ibu, bagaimana perasaan ibu sekarang, anak ibu terakhir ada di gedung itu dan sekarang belum dapat diketahui keadaannya?” . seketika tangis ibu tadi meleleh. Tidak meledak, tapi itu adalah tangisan seorang ibu yang punya sejuta makna. Yang ingin saya tegaskan di sini adalah : TV One tidak peduli perasaan sang ibu dan lebih memikirkan Rating.
  • Infotainment. Ini adalah Ghibah yang dipercantik dengan presenter yang manis berbalut pakaian vulgar. Ada yang bisa menghitung dosa-dosa yang kita semai dari menonton acara yang demikian ? Lalu, masih ingat ketika program SILET dihujat pasca erupsi merapi 2010 ?
  • Ceramah. Beberapa ada yang berkualitas, tapi lebih banyak yang mengerikan. Beberapa oknum yang mengaku “ustadz” justru tidak memiliki moral dan -maaf- , lebih mirip selebritis.
  • Music Program. Beberapa diantaranya yang jamak kita dengar adalah “Dahsyat” dan “Inbox”. Pada dasarnya saya tidak terlalu memahami jenis acara ini. Tapi prediksi saya banyak anak-anak muda usia produktif yang jadi lebih sering memperhatikan televisi daripada melakukan hal positif lainnya. Dan satu lagi, salah satu presenternya dikenal dengan tata bicara yang sangat amoral.
  • Reality Show. Beberapa reality show memang berkualitas, seperti acara “Tukar Nasib” yang kini ditayangkan oleh Indosiar. Namun kita pasti masih ingat betapa Helmi Yahya mampu membius penonton dengan acara “Termehek-mehek”-nya yang ternyata adalah rekayasa.
  • Humor. Jujur perlu saya katakan bahwa kualitas program humor di media nasional sangat mendukung program pembodohan bangsa. Beberapa diantaranya sebenarnya memiliki tingkat kreativitas yang tinggi seperti “Stand Up Comedy”. Namun di stasiun televisi lain terkadang sangat kotor dan maaf, menjijikkan. Masih kalimat ejekan “Cumi Saus Tiram!” atau “lu assalamualaikum mulu’, kayak pengemis aje lu”.

Program-program televisi ternyata berdampak sangat luar biasa di Indonesia. Dampak yang paling terasa terjadi di lingkup generasi muda. Mungkin diantara kita masih ingat beberapa hari yang lalu bahkan, seorang anak SD yang baru duduk di kelas IV mencoba untuk bunuh diri karena cintanya ditolak oleh gadis pujaan. Saya sendiri sangat miris jika membaca berita tersebut. Saya membandingkan diri saya di usia yang sama, yang menurut saya sangat berbeda jauh dengan keadaan anak-anak sekarang.

x2_1097a202

Solusi

Membicarakan solusi agaknya terlalu jumawa. Memperbaiki media nasional agaknya tidak mudah. Selain karena kini Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah semakin lemah akibat revisi undang-undang penyiaran yang menguntungkan media, juga disebabkan karena media-media tersebut umumnya dikuasai oleh orang-orang yang berkantong tebal. Oleh sebab itu, proteksi yang dapat dilakukan sementara ini hanyalah melindungi diri sendiri, dan orang-orang terdekat.

Dalam sebuah kajian, seorang yang dikenal arif, bijak, dan berilmu pernah menyatakan demikian : semakin sering seseorang menonoton televisi, maka hatinya akan semakin keras. Hal ini karena apa yang disajikan di televisi cenderung untuk memuaskan nafsu atau cenderung memperlihatkan penyelesaian masalah dengan cepat. Lihat saja sinetron itu, di awal mulai, sedih, di akhir bahagia. Semua masalahnya selesai dalam hitungan jam. Akibatnya generasi ini terbentuk seperti itu “memuaskan nafsu, dan tidak sabaran”. Tanpa televisi, atau mengurangi intensitasnya sepertinya akan menjadkan hidup lebih indah. Jika tidak bisa total, dikurangi saja sedikit demi sedikit, dan perlahan-lahan.

Ambilah yang menurut anda baik, dan tinggalkan yang menurut anda tidak baik.

Salam.

Selesai ditulis di kamar bercat putih,

22 January 2013 , 22:17

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Advertisements

7 thoughts on “Televisi Bikin Bodoh ? Apa Iya ??

  1. Keren bgt nih fa, bisa jadi refleksi bagi kita semua. Ironis juga liat konsumsi TV penduduk Indonesia, terutama yang pada usia anak2 dimana ajaran2 moral dll sangat bisa mempengaruhi karakter, malahan sekarang udah ga ditayangin lagi anime2 yang mendidik seperti digimon,dll. Padahal anime jepang banyak mengandung nilai moral yang sangat dibutuhkan masyarakat. Bisa dijadiin PKM GT nih fa…

    • Betul sekali Hamim Zaky.
      he he he. ingat dulu jaman-jaman kejayaan anime. meskipun cuma kartun ya, tapi kalimat-kalimat motivasi di sana sangat luar biasa. beda jaman sekarang yang anak2 belum pada sunat aja udah bicara CINTA. he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s