Berpikir Solusi Untuk Negeri. Mulai dari mana ?

Berpikir Solusi Untuk Negeri. Mulai dari mana ?

Dimuat di Tribun Jogja, Halaman 1 Tanggal 19 Oktober 2012

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 13 Oktober 2012 lalu, di Magister Adminitrasi Publik (MAP) Fakultas ISIPOL UGM diadakan sebuah agenda yang berupa peluncuran website dan sebuah buku yang bertemakan pergerakan. Website itu sendiri dinamai komunitassekip.org dan buku yang diluncurkan berjudul INDONESIA BERGERAK. Buku tersebut adalah buku yang berisikan sekumpulan pemikiran-pemikiran terhadap masalah yang terjadi di Indonesia yang meliputi semua bidang, diantaranya seperti bidang Kesehatan, Pertanian, Pemerintahan, hingga korupsi. Ada banyak hal yang digugah dalam tulisan-tulisan yang dimuat dalam buku bercover merah tersebut. Peluncuruan komunitas dan buku tersebut adalah merupakan hasil dari sebuah forum diskusi yang dilakukan oleh pemikir-pemikir muda terkait permasalahan-permaslahan bangsa yang telah dilaksanakan rutin setiap minggunya, dan hingga buku dan web tersebut diluncurkan, telah total telah dilaksanakan sebanyak 51 kali pertemuan.

gedung

Apabila memperhatikan hal ini, sekilas dapat dilihat bahwa peluncuran buku tersebut adalah sebuah langkah besar yang dapat dilakukan oleh kalangan akademisi untuk negeri. Fungsi kampus sejatinya adalah “rumah” bagi solusi dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi bangsa. Perguruan tinggi yang merupakan suatu institusi suci yang lebih mendekatkan manusia pada Tuhannya sudah merupakan sifat sejatinya untuk memberikan rekomendasi-rekomendasi atau rujukan-rujukan penyelesaian masalah yang terjadi di seantero bangsa ini.

Namun akan sangat disayangkan sekali, kecenderungan yang terjadi belakangan ini di mana bangsa ini dicitrakan sebagai bangsa yang sangat bobrok. Betapa tidak, hampir setiap hari kita dijejali dengan berita-berita yang ditampilkan dalam media elektronik skala nasional yang selalu menceritakan permasalahan-permasalahan yang terjadi tanpa kemudian memberikan solusi. Media-media elektronik yang ada itu tak jarang pula melakukan blow up terhadap masalah-masalah yang  sebenarnya tidak seheboh yang terjadi namun dilebih-lebihkan dengan memberikan bumbu berbau spekulasi yang kemudian mampu menggiring persepsi masyarakat yang berlebihan sehingga berujung pada sikap apatisme, dan pesimisme, masyarakat terhadap perbaikan masa depan bangsa.

Kritik sejatinya membangun, akan tetapi patut diketahui pula bahwa kritik yang disampaikan bertubi-tubi dan tanpa mengindahkan norma sosial akan menyebabkan “pembunuhan semangat” yang pada akhirnya akan menghancurkan, bukan membangun! Salah satu contoh yang paling klasik untuk membuktikan hal ini adalah, di Kepulauan Solomon, masyarakat di sana tidak melakukan pembakaran hutan atau penebangan dengan menggunakan teknologi canggih apabila akan membuka lahan baru di sebuah hutan belantara. Namun yang dilakukan adalah dengan mengelilingi pohon-pohon tinggi tersebut lalu berteriak bersama-sama atau bersahut-sahutan dengan kalimat-kalimat yang kotor, sumpah seranah, dan kata-kata kasar. Kedengarannya Gila ! Namun percaya atau tidak, dalam waktu sebulan atau lebih, pohon-pohon gagah tersebut mati dan tumbang. Dari sini kita bisa melihat bahwa pohon saja -salah satu zat hidup yang tak berakal- akan mati jika diumpat terus menerus, apalagi bangsa yang sejatinya memiliki struktur yang lebih kompleks.

Kembali ke topik di awal, peluncuran buku Indonesia Bergerak adalah suatu bentuk langkah strategis yang dilakukan oleh kalangan akademisi untuk memberikan sumbangsihnya secara langsung terhadap perbaikan kehidupan bangsa. Namun dalam kenyataannya, sebenarnya kegiatan semacam ini bukanlah yang pertama kali. Telah banyak gerakan-gerakan sejenis yang telah lebih dahulu dilakukan oleh kalangan akademisi dengan satu tujuan yakni memperbaiki kualitas penghidupan bangsa. Akan tetapi hingga saat ini belum ada yang benar-benar memberikan hasil. Hal ini mungkin disebabkan apa yang kita lakukan hanya baru sebatas teori. Artinya, apa yang kita katakan belum  mampu sejalan  dengan apa yang kita lakukan. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang berbicara antikorupsi di jalanan dalam sebuah demontrasi namun melakukan Titip Absen (TA) karena di saat yang bersamaan yang bersangkutan seharusnya sedang mengikuti kelas. Atau dalam contoh yang lain, seorang trainer yang bercerita tentang wirausaha dan segala trik-trik suksesnya tidak akan pernah mampu menggugah orang-orang di hadapannya jika ia sendiri tidak melakukannya!

Pada kegiatan yang telah dijelaskan di atas sebenarnya terjadi hal serupa, yakni acara yang pelaksanaannya tertunda selama 1 jam 15 menit dari yang seharusnya dilaksanakan pukul 08:30 namun baru dimulai mendekati pukul 09:45. Ini adalah IRONI di mana sebuah acara peluncuran yang bertemakan INDONESIA BERGERAK namun sendirinya tidak konsisten dan “bergerak terlambat” dari yang dijadwalkan. Satu hal yang lebih patut disesali adalah, tidak ada satupun dari panitia acara yang meminta maaf kepada peserta yang hadir sejak pukul 08:00 pagi. Maka dalam hal ini, patut kita tanyakan kembali bahwa, apakah kita telah benar-benar idealis dengan bersikap serius untuk perbaikan masa depan bangsa? apakah benar kita serius memikirkan perbaikan masa depan bangsa ? atau hanya sekedar seremonial belaka yang ujung-ujungnya tak lebih dari upaya untuk mencatatkan nama di sejarah saja? akh, rasanya kalangan akademisi (harusnya) lebih dari itu.

Perubahan dan perbaikan tidak mungkin dilakukan tanpa terlebih dahulu memperbaiki kualitas pribadi sendiri. Mengutip apa yang dikatakan oleh Aa Gym, setidaknya ada tiga langkah yang harus dilakukan untuk membuat sebuah perubahan menuju perbaikan, yakni Mulai dari hal yang kecil, Mulai dari Diri Sendiri, dan Mulai Saat Ini. Oleh sebab itu, maka di sini saya mengambil kesimpulan bahwa perbaikan, sekecil apapun tidak mungkin dapat kita raih tanpa kemudian terlabih dahulu merubah apa yang ada di sekitar kita, dan terutama, dimulai dari lingkup yang paling kecil, yakni diri kita sendiri!.

Ruang BEM KM Fakultas Geografi UGM

Yogyakarta, 14 November 2012

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Mahasiswa Tingkat III  Fakultas Geografi UGM

Advertisements

One thought on “Berpikir Solusi Untuk Negeri. Mulai dari mana ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s