UANG BIDIK MISI, UANG SIAPA ? (dimuat di halaman 1 tribun jogja, 10 Oktober 2012)

1349360706210574051_300x225.07317073171Beberapa hari yang lalu, saya diminta untuk mengisi sebuah kegiatan yang berkaitan dengan ke-Bidik Misi-an. Permintaan tersebut adalah untuk menjelaskan kepada mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi di Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada terkait Bidik Misi dan organisasi yang melindunginya yakni Keluarga Mahasiswa Bidik Misi Universitas Gadjah Mada (KAMADIKSI UGM). Organisasi ini sendiri adalah organisasi yang didirikan oleh Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidik Misi di Universitas Gadjah Mada tahun pertama (2010) dan dibentuk secara sah pada tanggal 13 Maret 2012 di Benteng Vredeburg. Saya sendiri sebagai salah satu pencetus berdirinya organisasi tersebut kemudian diminta untuk menjadi Penanggung Jawab (Ketua) selama periode 2011-2013.

Ada yang menarik dalam kegiatan sosialisasi ke-Bidik Misi-an yang di adakan di Ruang Auditorium Utama Fakultas Geografi tersebut. Keunikanitut adalah, pada salah satu slide presentasi yang saya proyeksikan, menjelaskan bahwa uang bidik misi yang digunakan adalah uang-uang milik pengemis, petani, tukang ojek, tukang becak, buruh bangunan, dan rakyat jelata yang umumnya berada di bawah garis kemiskinan.

Melihat tayangan slide presentasi saya tersebut, kemudian salah seorang mahasiswa (yang juga teman saya di kampus dan beberapa kegiatan) bertanya. Pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut :

Pendidikan adalah suatu bentuk tanggungjawab dan kewajiban pemerintah yang harus diberikan kepada warga atau rakyat yang dipimpinnya. Anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk pendidikan adalah 20% dan uang bidik misi di perguruan tinggi adalah salah satu produk dari anggaran 20% tersebut. Maka kenapa dalam slide presentasi tadi dijelaskan bahwa uang yang kita peroleh hari ini adalah berasal dari para pengemis , tukang ojek dan lain-lain ?

Sebetulnya saya agak sedikit terdiam mendengar pertanyaan dari adik kelas saya tersebut. Saya sendiri memang belum pernah menduga pertanyan itu akan digulirkan mengingat saya merasa asal-usul uang beasiswa  itu adalah suatu hal yang sudah pasti, yakni Rakyat!

Sudah pasti ?

Ya. Saya mengambil kesimpulan demikian dengan berbagai alasan, yang kemudian saya jelaskan pada penanya tersebut.

Pemerintah memiliki kewajiban dan tanggungjawab untuk men-sejahterahkan rakyatnya, tidak terkecuali saya, anda, atau semua orang yang berada di luar sana. Termasuk orang-orang yang kini tengah kedinginan di desa Ende, atau orang-orang yang sampai detik ini belum mampu berbahasa selain bahasa lokal di Tengger, atau pengemis yang ada di Maliboro. Semua adalah tanggung jawab pemerintah seperti yang termaktub dalam UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1 yang berbunyi : Fakir Miskin dan Anak-Anak terlantar dipelihara oleh negara. Akan tetapi pada kenyataannya pemerintah Belum mampu men-sejahterahkan rakyatnya secara menyeluruh, sedangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara jumlahnya terbatas (yang sebagian besar dialokasikan untuk pembayaran Hutang).

Di sisi lain pemerintah harus mengatur strategi agar pemerintahan bisa berjalan terus menerus. Oleh sebab itu pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan dengan membuat prioritas di mana kalangan pemuda, khususnya kalangan terdidik yang mengalami kesulitan (terutama pada finansial) untuk dibantu dalam mengakses pendidikan, termasuk akses untuk pendidikan tinggi dalam bentuk beasiswa Bidik Misi.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pemuda adalah harapan bangsa. Oleh sebab itu masa depan bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas pemuda hari ini. Hal inilah yang kemudian membuat Pemerintah lalu mengeluarkan kebijakan yang memprioritaskan dunia pendidikan dibandingkan lainnya, walaupun di tempat lain hak-hak dari golongan pengemis dan lainnya harus agak sedikit dipinggirkan (namun tidak dilupakan). Oleh sebab itu, secara “halus” sebenarnya dapat dikatakan bahwa kita telah merenggut hak dari orang-orang golongan ekonomi lemah untuk mendapatkan kesejahteraan (atau penyejahteraan) dari pemerintah. Uang yang harusnya diberikan oleh pemerintah untuk men-sejahterahkan golongan miskin harus diserahkan kepada golongan terdidik yang di masa depan akan menggenggam perjuangan bangsa menuju ke-madani-an.

Karena itu, tanggungjawab dari seorang Mahasiswa Bidik Misi jauh lebih besar daripada tanggungjawab seorang mahasiswa biasa (yang tidak mendapatkan beasiswa bidik misi). Atau dalam sekup yang lebih besar dapat dikatakan bahwa tanggungjawab mahasiswa penerima beasiswa dari uang rakyat jauh lebih besar daripada yang tidak.

Oleh sebab itu, dari sini saya memberikan kesimpulan bahwa uang bidik misi yang di awal saya sebutkan sebagai uang para pengemis dan lain-lain bukanlah diartikan secara hafiah, melainkan secara esensi, bahwa uang yang kita pakai selama ini adalah betul uang rakyat miskin yang harus (terpaksa) berkorban demi keberlanjutan eksistensi Bangsa yang kita cintai, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Advertisements

4 thoughts on “UANG BIDIK MISI, UANG SIAPA ? (dimuat di halaman 1 tribun jogja, 10 Oktober 2012)

    • wah. agaknya kata “berebut uang” sangat tidak layak untuk dipersembahkan kepasa objek yang mas sebut dengan “kita” yakni mahasiswa.
      mahasiswa harus anggun dengan mengambil apa yang menjadi haknya dan memberikan aa yang menjadi kewajibannya
      🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s