Tawaran Kematian, Sebuah cerita yang saya renungkan dalam sebuah kuliah

Sekitar akhir april lalu, saya mendapatkan sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik dalam benak saya. Pertanyaan itu muncul dalam sebuah kelas bahasa inggris yang saya ikuti. Pertanyaanya kurang lebih seperti ini…

“If you are offered to get anything  you want and you’ll live in prosperity and happily. But on your 40th years old,  you die. Would you take that offering ??”

Terjemahannya kurang lebih seperti ini

“jika kamu ditawarkan untuk hidup dengan mendapatkan semua yang kamu inginkan, makmur dan bahagia, akan tetapi pada usia ke 40 tahun , kamu mati. Apakah kamu akan menerimanya ?”

images

Dalam sekilas, mengerikan. Tapi apakah semengerikan itu, akh ternyata tidak.

Serta merta waktu itu saya menjawab, “May be I’ll take it”

Dan sontak, satu kelas men-diam.

Beberapa sahabat saya di dalam ruangan tersebut langsung terkejut dan berpikir bahwa saya gila. Termasuk tentor saya waktu itu. Beberapa dialog yang kemudian terjadi adalah

“are you crazy ? many people said that the live begins on 40th and you want to miss it ?”

Dialog di atas adalah kalimat spontan dari Ahnaf  Basalamah, teman saya mahasiswa Teknik Industri 2009.

“don’t you think about your family, your children ?” Tentor saya menimpali.

“ya ! don’t you think that you are very selfish ??” Ahnaf menyambung kalimatnya lagi.

Saya hanya tersenyum. Saya lalu menyampaikan argumen saya terkait pilihan yang mungkin gila. Beberapa argumen yang saya berikan adalah sebagai berikut

  1. Kematian adalah suatu keniscayaan dalam hidup. Beberapa orang gagal sebelum bertemu dengannya, dan beberapa orang yang berhasil hanya berjumlah sedikit. Jika anda diberikan pilihan untuk hidup luar biasa bahagia, kenapa anda menolak ??
  2. Tujuan orang hidup di dunia adalah untuk mencari kebahagiaan, baik di dunia maupun di hari-hari panjang setelah kematian. Jika ketika di dunia kita mampu mendapatkan apapun yang kita mau, maka akan sangat mudah berbagi, beribadah, dan memanfaatkan kemampuan kita untuk mendapatkan semua yang kita inginkan untuk berbuat kebaikan.
  3. Egois ? ah tidak. dengan kemampuan untuk mendapatkan apapun, kita bisa persiapkan apapun untuk orang-orang yang ada di sekitar kita bukan ?
  4. Mengetahui waktu kapan mati adalah suatu keuntungan. Di mana kita bisa mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kondisi ini dapat dianalogikan sebagai berikut : seorang mahasiswa biasanya menghadapi dua macam ujian di kampus, yakni ujian terstruktur dan ujian tak terstruktur. Ujian tersetruktur adalah ujian akhir semester ataupun ujian tengah semester. Sedangkan ujian tak terstruktur adalah ujian yang sifatnya dadakan seperti kuis baik pretest ataupun post test. Nah , di antara dua jenis ujian ini, kira-kira ujian mana yang lebih potensial memiliki persiapan yang matang  dan memberikan hasil yang memuaskan ? begitpula halnya dengan kematian. Sekiranya kita mengetahui kapan waktu kita berakhir, maka persiapan untuk menghadapi kematian bisa lebih baik kan ??

Nah, cukup ini argumen yang saya berikan kepada teman dan tentor saya di dalam kelas. Lalu pertanyaannya, jika tawaran ini diberikan kepada anda, apakah anda akan menerimanya ?

Selesai ditulis di Kamar Bercat Putih Berdaun Pintu Hijau, Yogyakarta

19 April 2012, Pukul 23:20

Advertisements

2 thoughts on “Tawaran Kematian, Sebuah cerita yang saya renungkan dalam sebuah kuliah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s